Dua jam yang lalu, apartemen Shila ramai oleh sekitar tujuh delapan orang teman dekat. Reuni dadakan dalam rangka menyambut kepulangan Janus itu dihiasi oleh riuh rendah tawa ala reuni menertawakan masa-masa SMA. Saling tanya tentang kabar, saling bercerita tentang hidup dan kisah cinta masing-masing, serta selorohan provokatif yang menanyakan kapan hubungan Shila dan Janus melangkah ke tahapan yang lebih serius, yang lalu dijawab dengan ucapan asal Janus ‘Lho, lo pada ga dapet undangan? Ntar malem kan resepsi. Di Timbuktu.’ yang disambut dengan tertawaan seisi ruang tamu ukuran tiga kali lima itu.

Semuanya kini menyisakan segumpal rasa yang padat dan penuh di hati Shila.  Termasuk tumpukan piring dan gelas yang harus dicucinya sisa acara reuni kilat tadi.

Saat ini, Janus tertidur di sofa. Kepala Janus bersandar di paha Shila, membuatya tidak bisa beranjak, karena takut sekaligus tidak tega membangunkan Janus. Janus kekasihnya sejak hampir 9 tahun terakhir. Sejak keduanya masih duduk di bangku SMA, hingga kini, Shila telah menjadi seorang fashion editor di sebuah majalah wanita sekaligus pemilik sebuah butik prestis di kawasan Kemang, sedangkan Janus saat ini masih terdaftar sebagai graduated student di Columbia University. Disertasinya baru saja dirampungkan, dan akhirnya diputuskan untuk kembali ke Jakarta untuk beberapa hari sebelum mengurus yudisium.

Menatap wajah Janus yang sedang tertidur, dulunya adalah satu hal yang menyenangkan dan melegakan. Menyenangkan karena Janus bagi Shila adalah pria tertampan di dunia. Sekaligus melegakan, karena si pria tampan yang dulu ditaksirnya sewaktu masih menjadi senior di SMAnya, sekarang telah menjadi kekasihnya. Namun kini menatap wajah Janus adalah badai di hati Shila.

Dan Janus pun masih terlelap, jet lag akibat berjam-jam perjalanan udara membuatnya terus pulas tertidur, meski Shila telah beranjak dan mengganti peranan pahanya dengan sebuah bantal.

Sudah lima jam Janus tertidur di sofa.  Dengkuran halus itu pun terpaksa dihentikan. Janus sedikit tersentak setelah Shila menepuk pelan tubuhnya berkali-kali untuk membangunkannya.

“Ah Shila, maaf aku ketiduran, capek banget,” ujar Janus dengan suara parau khas bangun tidur.

“Maaf Jan, aku harus ngebangunin kamu. Kamu ngga pulang? Udah jam 11 malam,”

“Astaga, selama itukah aku ketiduran?” ujar Janus yang langsung beranjak ke posisi duduk.

Shila tersenyum sambil merapikan rambut Janus yang berantakan.

“Janus, ada yang mau aku sampaikan ke kamu,”

“Ya Shil? Tentang apa?”

Hening sejenak.

“Kita,”

Hening.

“Janus, aku nggak bisa ngerangkai kata, tapi yang ada di otak aku cuma satu kata… jenuh,”

Hening.

“Aku capek harus menutupi perasaan jenuh ini, aku capek harus berpura-pura. Aku capek Jan, jadi prioritas nomer sekian dalam hidup kamu dari dulu. Dari dulu di SMA, kamu lebih sering menghabiskan waktu sama basket dan band kamu. Setiap kita pacaran, yang kamu bicarain ya cuma tentang kemenangan tim basket kamu dan performance band kamu. Sampai sekarang selama kamu di NY, pasti selalu aku yang ngajakin kamu buat Skype-an kan? Aku selalu care sama kamu di sana. Apa kamu pernah nanyain aku gimana hari-hari aku? Kamu ngga pernah tau gimana aku struggling di kantor. Kamu ngga pernah inget tanggal ulang tahun aku, dan bahkan kamu pasti lupa kan kalau hari ini hari jadi kita yang kesembilan?”

“Shil, kalau aku jarang nanyain kabar kamu, apa itu artinya aku ngga lebih sayang kamu dibanding kamu sayang sama aku? Kalau aku lupa sama tanggal ulang tahun kamu atau tanggal jadian kita, apa artinya aku udah ngga sayang sama kamu? That’s how nature works, between men and women there will always be some different ways to express their feeling,”

“Telat Jan, i’ve already lost my feeling,

Hening.

“Okay,” jawab Janus datar sambil melangkah ke pintu. “But, there will always be a chance, Shil?”

“Aku ngga yakin Janus, karena dengan kamu melangkah keluar seperti ini, mungkin pintu apartemen aku ngga akan terbuka lagi untuk kamu,”

Janus tersenyum kecut “Nite, Shil,” lalu menutup pintu.

Meninggalkan Shila yang masih terkaget atas sikap Janus yang dengan mudahnya meninggalkannya seperti itu.

Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk Shila mengenal pribadi cuek Janus. Sejak SMA pun ia sudah menyadarinya. Shila tidak ingin munafik, sebagai perempuan, ia selalu iri mendengar teman-temannya bercerita tentang pacarnya, tentang bagaimana pacarnya memperlakukan mereka seperti sebuah porselein yang haru selalu dijaga. Kini hatinya semakin kacau mengingat besok adalah hari pernikahan sahabat terdekatnya, Arin, dan hari ini, nampaknya Shila justru baru saja patah hati.

Sejak hari-hari sebelum kepulangan Janus ke Indonesia ini, Shila telah mempersiapkan diri untuk situasi seperti ini. Meskipun ia terus-terusan mencoba mensugesti diri dalam hati “I’ve lost my feeling for you,” tapi nyatanya melihat kepergian Janus barusan, masih bisa membuatnya menitikkan air mata.

Mata Shila tertuju pada sesuatu di balik bantal sofanya. Rupanya Janus melupakan sweatshirtnya di sofa, Shila pun meraihnya.  Aroma parfum Janus yang menempel di sweatshirt benar-benar terasa menusuk. Sembilan tahun yang berakhir seperti ini?

Sweatshirt kesukaan Janus. Sweatshirt abu-abu. Sweatshirt di mana sore tadi, di mobil setelah memarkirkan mobil di apartemen Shila, Janus memasukkan sekotak cincin ke sakunya. Cincin lamaran di hari jadi kesembilan yang belum sempat diberikan.

Tubuh Shila lemas ketika menyadari ada sesuatu di dalam saku sweatshirt Janus, sebuah kotak cincin dan secarik kertas kecil di dalamnya bertuliskan ‘Happy anniversary, my wife. Marry me?’

Lemas. Terngiang-ngiang olehnya kata-kata Janus sebelum pergi, “But, there will always be a chance, Shil?”

Tiba-tiba ponsel Shila berdering, layar ponselnya memunculkan foto Janus  yang tersenyum dengan memakai sweatshirt yang sama seperti yang di tangannya.

Ada ragu di batin Shila. Namun diputuskannya untuk mengangkat teleponnya.

“Halo, Janus,” ujarnya dengan suara bergetar.

“Shil, sweatshirt aku ketinggalan ya? Mind if I take it now?”

“Janus, aku udah tau semuanya, soal cincin…”

“Ya Shil,” terdengar nafas yag berat dari seberang telepon, “Aku ngga memaksa kok, apalagi setelah keadaannya seperti ini sekarang. Aku tau, kamu ngga akan mau nerima. Aku memang nggak peka selama sembilan tahun ini,” jawab Janus.

Hening.

Hening.

Badai di hati Shila perlahan surut. Berganti dengan kepakan ribuan kupu di perut.

But, there will always be a chance, kan, Jan?”

 Pogung Baru, 28 Oktober 2011. Menulis dengan kondisi otak mbleduk.

3 thoughts on “Mind for Any Chances?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *