Halo!

TLDR; Ngga ada yang salah dengan media sosial, yang bisa jadi salah – ya manusianya.

Seperti teman-teman kebanyakan, hidup saya juga sangat erat kaitannya dengan media sosial. Bohong kalau saya bilang dalam sehari saya bisa untuk tidak ngecek timeline media sosial pribadi. Di luar itu, pekerjaan saya selama 4 tahun terakhir ini memang terkait secara langsung dengan media sosial. Media sosial juga bagian dari mata pencaharian saya.

Sekilas tentang Love Hate Relationship Saya dengan Media Sosial

Iya, pekerjaan saya nampaknya selalu bersinggungan dengan dunia digital termasuk media sosial. Mulai dari  jaman masih di NGO, lalu di digital agency, lalu di start-up company, terus bikin jasa consulting kecil-kecilan sendiri, sampai (bisa-bisanya) jadi buzzer juga.

Menjadi buzzer (slash influencer slash KOL), bisa dibilang, saya kebagian hoki aja. Saya main Instagram sejak 2012 (wow sudah lebih dari 6 tahun ya!). Sejak sebelum era Instagram, saya sudah memiliki ketertarikan dengan fotografi. Jadi ketika ada Instagram yang memang formatnya sangat visual, saya pun ikutan buat nge-share hasil foto saya di sana. Saat itu, Instagram masih stage tumbuh banget,  dan untuk gaining customer engagement, dulu mereka punya program apresiasi yang namanya Suggested Users. Jadi users yang menurut tim Instagram ini punya karya yang  cukup oke di Instagram, akunnya akan di-highlight selama beberapa minggu, jadi ‘suggested users to follow’ yang ditampilkan ke seluruh users Instagram sedunia kala itu. Singkat kata, saya sempat kebagian jadi Suggested Users (SU) oleh Instagram selama beberapa kali, dan jumlah followers saya pun bertambah drastis karenanya.

This ‘SU’ program was crazy!! People wanted to be one. Ketika saya menjadi SU kala itu, saya mendapat beberapa messages dari users lainnya (through email – seniat itu, karena belum ada fitur DM kala itu), yang meminta saya untuk me-refer akun mereka untuk di-suggest juga oleh Instagram – padahal saya tidak kenal secara personal dengan mereka.

Why? Why being popular on social media seems to be everything? Does it make us happy to have lot of people to follow our lives or appreciate our works?

Are we now being defined by those numbers of followers and likes? Saya harap tidak.

I see Instagram as a gallery to express yourself and your life. Dari awal, saya memilih untuk menjadikan Instagram sebagai portfolio, dan tidak terlalu banyak share kehidupan pribadi saya di sana. Sure, we can decide what we’re going to share on social media, BUT we can’t control what people share. Melihat linimasa dan update-an media sosial ini, seakan menjadi perwujudan definisi frase ‘jendela dunia’ yang lebih relevan di masa kini. 

Some news, whether it’s fact or hoax, spread faster now – berkat media sosial.

We feel close to certain people, just because we seem to know every single thing happened in their lives – berkat media sosial.

We reconnect with some old friends – karena media sosial bisa jadi sarana interaksi, tanpa harus basa-basi.

We often say ‘Temennya X juga, ya? Gue sering liat lo di postingan Instagramnya X soalnya,’ –  oh tali kasih berkat media sosial.

Media sosial juga berperan penting dalam memupuk rasa curiosity alias KEPO,  pada individu-individu yang bersangkutan, atau bahkan yang tidak ada sangkutannya sama sekali dalam hidup kita. Contohnya; scrolling through akun hosip underground yang berujung tap tap tap ke akun lainnya, sampe ga terasa udah sejam aja. Hmm.. story of my life.

Dari Sumber Inspirasi Sampai Jadi Adiksi

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat mengisi workshop tentang media sosial dan positivity.  Ada banyak hal menarik yang kita bahas tentang media sosial dan pemanfaatannya untuk hal baik, bagi diri sendiri, ataupun sekitar. Tidak bisa dipungkiri, media sosial adalah sumber informasi dan inspirasi yang terwahid di era ini. Namun, yang menarik, dalam diskusi itu, banyak peserta yang mengaku sempat menjalani ‘social media detox’, alias puasa media sosial selama beberapa waktu. Alasannya macem-macem;

Gue ngerasa udah kecanduan sama media sosial, udah ga sehat,’ ujar salah satu di antaranya.

Seorang peserta lainnya juga menyebutkan kebosanan sebagai alasan; ’Waktu itu karena lagi muak, tiap buka Instagram, isinya euphoria nikahan Raisa Hamish’. – maap maap nih sebut merek.

Dan apapun alasannya, mereka mengaku lebih lega ketika, dan setelah, menjalani social media detox. Ada yang merasa menjadi tidak overwhelmed dengan hal-hal yang selama ini dilihat di media sosial yang bahkan bisa jadi peer pressure tersendiri, ada juga yang mengaku setelah melakukan detox, kecanduannya terhadap media sosial jadi berkurang drastis, dan jadi bisa mengalihkan waktu luangnya kepada hal yang lebih berfaedah, ujarnya.

Saya percaya, bahwa apapun yang berlebihan itu tidak sehat. Iya, dong? Termasuk juga berlebihan frekuensi ngecek media sosial hohoho. Kecuali kalau pekerjaan kamu memang menuntut kamu untuk mentengin media sosial terus, itu lain derita, eh cerita ya…

Saya juga pernah mengalami masa-masa itu, sedikit-sedikit cek timeline, refresh timeline, terutama ketika musim liburan tanpa kerjaan. Selain membuat paket internet pascabayar makin borosss (halo Halo, kenapa paket internetmu angkuh sekali harganyaaa?), nyanduin media sosial itu berasa banget ga sehatnya, sampe bisa bikin lupa waktu untuk sesuatu yang nirmanfaat. Ingin rasanya nyobain detox juga (Andi, suami saya juga sempat beberapa kali detox media sosial dengan uninstall app). Tapi, nyatanya saya ngga pernah bisa kesampean karena tuntutan pekerjaan.

Kalau kamu merasa adiksi itu mulai akut dan mengganggu ritme aktivitas lainnya, boleh aja kok nyobain yang namanya social media detox. Atau kalau ga sanggup untuk uninstall, saran saya yang cukup ampuh buat saya adalah, alihkan ke aplikasi lain. Boleh, misalkan media sosial yang sifatnya lebih edukatif, kayak Quora. Atau aplikasi lain yang ga kalah menyenangkan, tapi ga seseru itu buat bikin kecanduan, seperti game yang sering saya mainin akhir-akhir ini; SUDOKU. Mainnya geregetan karena penasaran, tapi buat dicanduin kayaknya lumayan bikin otak berotot juga ya. Jadi urung.

Selamat Datang di Era Validasi Sosial-Digital

Talking about addiction, ternyata ngga cuma tentang kecanduan buka media sosialnya aja. Ada lagi yang namanya candu apresiasi. Likes dan comments seolah-olah jadi simbol bahwa konten yang kita share adalah sociallyapproved. Bahkan kesannya, kehidupan kita approved atau ngga by netizen, bisa kita lihat dari respon yang kita dapat setelah kita mengunggah konten di media sosial. Been there, done that, saya memperhatikan, di Instagram pribadi saya, jumlah likes yang saya dapat umumnya akan lebih banyak ketika saya posting kehidupan pribadi, seperti foto saya dengan suami, ketimbang jumlah likes pada hasil foto karya saya hahaha. But I chose to stop caring about the numbers, dari awal saya membuat Instagram sebagai galeri untuk showcasing karya saya terlepas dari banyak atau ngganya jumlah engagement yang terjadi pada konten tersebut, and it has been over 6 years since I decided to.

It’s just one tap away on your screen to share the love for a post, but why other people’s acceptance and approval seems to be very important? Mungkin memang hakikatnya kita sebagai manusia yang cenderung untuk seeking for validation and approval. Bedanya, kita hidup di zaman digital, di mana acceptance dan apresiasi pun kini bisa diberikan secara virtual.

Ngga perlu lagi malu-malu memuji dengan ngomong langsung ke orangnya; “kamu cantik deh”, ya cukup tap screen dua kali aja di postingan foto OOTDnya, buat ngasih like. Voila, another social awkwardness problem has been solved! Thanks to digitalisasi.

Lantas, kalau kita tidak mendapat apresiasi, dalam hal ini berupa number of engagements yang terjadi pada suatu post (mana suaranya klien-klien yang sering menuntut ER ER dan ER??), bukan berarti we’re not socially accepted nor the content widely approved loh! Since giving likes is not mandatory, bisa aja kan audience hanya memuji dalam hati, tanpa memberikan like or comment at all, sesimpel karena si audience sedang sambil nyetir di kemacetan pas iseng liat-liat timeline (maaf kebiasaan kalo lagi macet ini – jangan ditiru).

Yaa, bisa jadi it doesn’t mean anything at all. It doesn’t mean that you’re super approved by society if you got lots of followers. It doesn’t mean that you’re not socially accepted if you got less likes……

Let’s not define ourselves by what people think about us – they could be wrong, moreover, by those number of likes and comments. Uh..

Jadi Harusnya Gimana?

We live in the idea of ‘black and white just don’t really exist in this world’. Tidak ada yang mutlak, semua hal pasti ada sisi baik dan buruknya. Mungkin ngga, sebetulnya bukan media sosialnya yang buruk? Tapi cara kita melihatnya (dan maininnya) aja yang salah?

Simpelnya gini, ngga semua hal di dunia ini bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol cuma cara kita menyortir info apa yang penting buat kita serap, dan tentu mindset, plus reaksi kita.

Kalau bete karena ngeliat media sosial penuh dengan drama – eits, coba diunfollow dulu itu akun-akun gosipnya.

Atau ngerasa peer pressure karena di media sosial, orang lain kelihatan lebih happy dan sukses? Guys guys, yang kita lihat cuma sisi luarnya aja, mereka mungkin ga share, struggle seperti apa yang mereka hadapi.

Ngeliat pasangan-pasangan di Instagram kok pada #RelationshipGoals semua? Hey, percaya deeeh, postingan mereka pas lagi berantem ga bakal mungkin dipost sebagai konten.

We tend to not sharing bad things that happen in our lives on social media. Karena hal buruk bukan buat di-keep dan dikenang. Karena hal buruk bukan buat dipampang. Jadi karena yang kita lihat di media sosial mostly adalah sisi yang nampak happy-happy aja, lalu social media ini seolah menjadi ‘ideal mediainstead.

Dan tentu ini bukan sesuatu yang harus ditentang. That’s how this society works.

Unless you perceive those ideal pictures as a pressure, or a judgement, atau bahkan jadi rasa iri – yah, baru deh jadi racun kan! 😛

Contohnya begini:

Skenario: Musim liburan akhir tahun nih, buka timeline Instagram isinya semua orang lagi liburan.

Si BM

Respon: “Ah, jadi kepingin!” 

Bisikan lubuk hati terdalam: ‘Hey, jangan buru-buru BM pengen ikutan juga. Coba dicek lagi balance sheets keuanganmu tahun ini gimana. Katanya mau kawin!’

Si Julid

Respon: “Paling juga beli tiketnya masih ngutang CC”

Bisikan lubuk hati terdalam: ‘Mau temanmu ini ngutang atau cash, isi rekening tabungan kamu juga ga ada bedanya kan?’

Si Under-pressure

Respon: “Wah hebat ya mereka bisa liburan jauh-jauh, tabunganku kok masih segini-segini aja,”

Bisikan lubuk hati terdalam: ‘Kamu ga tahu kan kalau temanmu ini bootstrapping untuk bisa jalan-jalan, bahkan lebih banyak uang yang keluar untuk beli produk skincare kamu selama ini hihihi,’

Realita: Mereka lagi liburan. Dan mereka share itu di media sosial. Titik.

Udah, be happy for them. 

.

Memang yang kita share dan persepsi orang tentangnya adalah wallahualam.

Atau ada juga yang harapannya dapet attention dengan postingan-postingan curhat, ngeluh-ngeluh babu. Alih-alih dapat simpatik, bisa jadi yang ada malah dianggep ‘negatif banget sih’.

See, we can’t also control how people judge us (solely) from what we share on social media juga loh. Social media could be this tricky, and tiring too ya.

Solusinya apa?

Ga ada. Hahaha. Ya kuat-kuatin aja buat ngga peduli sama pendapat orang. Dan pinter-pinter lah untuk sortir yang mana yang harus di-share, dan yang mana yang ngga perlu.

Meskipun tidak dipungkiri, diapresiasi itu menyenangkan, tapi jangan sampai validasi media sosial jadi beban pikiran dan kehidupan. Apalagi kalau seeking for validation on social media turns into addiction. No, don’t!

Why? Karena masih ada kehidupan nyata yang harus kita urusin di luar media sosial. Hehehehehe. Di samping fakta bahwa media sosial ini juga bisa menjadi mata pencaharian, but please do prepare yourself kalau suatu hari kebangun dan media sosial sudah ga eksis lagi di muka bumi. Atau amit-amit, yang mungkin juga kejadian, suatu hari akun media sosial kita di-hack sama orang yang ngga bertanggung jawab. Our lives will not just end yet.

Let’s face it, ga ada yang abadi, termasuk media sosial. Coba inget-inget nasibnya Friendster, atau mungkin Path. Gulung tikar ya mungkin aja bok. Jadi jangan sampe ngalahin realita  dan tanggung jawab kehidupan demi media sosyel ya.

Ada banget, seorang influencer yang diwawancara di sebuat acara infotainment, begini;

Presenter: “Kamu ngga mau ngelanjutin kuliah?”

Public figure slash influencer: “Belum dulu sih, kalau aku kuliah, nanti ngga bisa dateng ke undangan event-event buzzer dong,”

Hmmmmm….

Bhaiq.

Oke, paham media sosial jadi lahan pekerjaan juga, tapi… What I’m saying is, let’s face it; kalau nantinya media sosial udah ngga ada, so what’s your plan? Plan B harus tetap ada dong.

Afterall, jangan lalaikan aspek kehidupan lainnya demi media sosial. Jangan telan segala sesuatu yang ada di media sosial bulat-bulat, apalagi sampai self-harming atau being judgemental. Don’t take things personally on social media – social validation whaaat?

Dan yang terpenting, never forget to get a life! Sometimes, it’s really nice to enjoy the present moment, without any intervention and  the urge to record and share something right away on social media. Mungkin kapan-kapan boleh ya dicobain.

.

Jakarta, 29 November 2018.

Ditulis di Starbucks PP, sambil menunggu suami pulang kantor. Penulis mencoba menulis di blog lagi untuk mengalihkan perhatian, supaya ujung-ujungnya ngga menunggu sambil ngecekin media sosial.

4 thoughts on “Media Sosial: Antara Inspirasi, Validasi, dan Adiksi.”

  1. Dari dulu selalu ngikutin tulisan kak Olga! Happy that you came up with this topic. Sekarang juga aku lagi vakum dari Instagram for about a month. Tau sih baru sebulan, tapi rasanya lega banget! People really should detox themselves from social media kayaknya at least once. (Tapi ya mon maap kalo kerjanya emang lewat sosmed, kayaknya bakalan susah ya..) Semangat terus kak Olga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *