“Mungkin kamu terlalu overthink soal pandangan orang tentang diri kamu,” ujar saya kepada seorang kawan baik pagi ini, di tengah-tengah obrolan kami.

Sembari berujar demikian, sebagian kecil hati saya bersuara; ‘Are you talking to yourself, Ga?’. Terlepas dari kami berdua memiliki tipe MBTI personality yang sama; ENFP – yang memang terkenal dengan overthinking dan seringnya ngerasa ‘gak-enakan’ sama orang.

I’ve been living my life with sooo many stories di mana saya ngerasa ngga-enakan, overthinking, dan akhirnya berujung menjadi a ‘yes man’ karena takut konflik. My teenage years were the worst.

Ada masanya ketika saya menjalani toxic friendship di tahun pertama saya masuk SMP. Yang bahkan baru beberapa tahun terakhir ini lah saya sadari, bahwa yang saya alami tersebut menjurus ke bullying.

Singkatnya, saya punya teman dekat kala itu, sebut saja ia bernama X. Secara pribadi, X sebetulnya menyenangkan. Tapi tidak se-menyenangkan itu ketika ada nilai ujian saya yang sesekali lebih tinggi – saya bisa didiemin seharian untuk ini. Yang saya lakukan di hampir setiap ujian was-was kalau nilai saya lebih tinggi, dan juga mengkoreksi ulang hasil ujian, mana tahu ada kesalahan anulir yang membuat nilai saya seharusnya tidak lebih tinggi dari nilai yang diperoleh X.

Atau ketika saya cerita kalau saya naksir cowo, dan ternyata X naksir cowo yang sama juga. Beberapa waktu kemudian, seorang teman lain bercerita bahwa X mengaku membuat telepon gelap kepada si cowo yang rupanya kami berdua taksir, dengan mengatasnamakan saya. Dan saya ngga marah sama X, saya malah takut. Sakit.

List kebodohan saya kala itu mungkin tidak akan cukup jika saya tuliskan di sini.

Sampai akhirnya satu tahunan kemudian saya mencoba membuat jarak. Tidak mudah, namun rupanya, ‘takut’ bukanlah akar permasalahannya, saya hanya tidak menyukai konflik, jadi saya memilih menjadi diam (dan lemah). Hingga akhirnya saya mampu untuk pelan-pelan menjaga jarak, dan setelahnya, pergi ke sekolah mulai tidak menjadi momok bagi saya.

Kembali lagi ke bahasan awal.

Seberapa sering kita memberikan ruang kepada diri sendiri untuk didengar dan berekspresi – mengabaikan apa yang mungkin orang lain pikirkan tentangnya?

Seberapa sering kita mengabaikan suara hati, dan memilih untuk pergi mengikuti arus kebanyakan, hanya karena kita takut dipandang tak sejalan dengan orang lain?

Bisa jadi solusinya mudah; berhenti merasa gak enakan selama kita memang tidak merugikan, berhenti overthinking, dan selalu beri ruang untuk mendengar suara hati. Karena hati kita adalah yang pertama yang bisa melindungi diri kita sendiri, sebelum orang lain.

Teman saya yang takut bersikap dan mengekspresikan diri karena ‘takut di-judge‘ sama orang lain, ataupun saya yang ‘semacam pasrah di-bully’ secara emosional di masa remaja karena saya ‘takut konflik’ untuk membela diri, mungkin sebagian dari hal yang bisa terjadi jika;

suara hati < pikiran orang lain.

Dan itu jelas nggak bener.

Again, easier said than done. Tapi namanya hidup ya proses belajar. Semoga dengan ini kita lebih bisa untuk appreciating diri sendiri ya.

Life is something we should cherish, and for not letting ourselves to live the fullest (simply because of we’re afraid of what people think) might be one thing we don’t want to regret later 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *