Si Badut

Banyak macam profesi yang ada di dunia ini. Jauh lebih banyak dari yang dikenalkan oleh ibu guru-guru zaman TK. Mungkin yang paling populer tertanam di usia dini macemnya dokter, insinyur, pilot, uuuh. Manalah ada anak TK yang bakalan jawab ‘tukang sapu’ begitu ditanya apa cita-citanya. Seandainya dalam kehidupan nyata profesi bisa dipilih seenak jidat layaknya anak TK yang ditanya cita-citanya. Terkadang hidup gak melulu soal pilihan, profesi misalnya, bagi sebagian, profesi adalah tuntutan.

Sama seperti profesi badut.

Siapa yang pernah bercita-cita jadi badut waktu kecil. Badut memang menyenangkan, dipanggil mengisi acara di pesta ulang tahun ke 5, bermain dengan 5 bola pingpong, lalu membuat seorang teman menangis ketakutan ketika melihatnya. Tapi mana ada yang bercita-cita menjadi badut.

Bagi gue menjadi badut adalah mulia.

Tiap hari si badut berkostum tebal warna-warni, serta ber-makeup tebal dengan bentuk riasan mimik muka ceria, tak lupa lipstick merona berbentuk bibir yang menyunggingkan senyum besaaar yang menjadi khasnya.

Siapa sangka dibalik senyuman lebar si badut ada tagihan uang kontrakan yang diburu oleh debt collector, ada anak yang menangis kehabisan susu, ada istri yang main serong dengan tetangga  sebelah yang berprofesi sebagai juragan ayam.

Dan si badut masih menari-nari, dipanggil dari pesta ke pesta, diajak berfoto bersama di taman hiburan, dengan cerianya menghibur dengan senyum lebarnya, berharap dapur esok pagi masih mengebul.

Suatu ketika si bos menegur karena wajah ceria si badut berganti dengan wajah muram dan gundah selama beberapa hari terakhir, memaki bahwa ia akan temukan badut-badut yang lain untuk menggantikan posisinya.

Badut pulang dengan tangan kosong hari itu. Malam itu tak ada asap dapur yang mengepul, hanya ada debt collector yang menggedor-gedor pintu, anak yang menangis kelaparan, dan tawa istri di rumah tetangga sebelah terdengar samar-samar.

Si badut menanggalkan kostum badutnya. Silet sudah berlumuran darah. Seketika ia tahu, kostum kebesarannya memang ditanggalkannya untuk selamanya. Si badut sudah tidak akan ada lagi. Sama seperti denyut nadinya.

(untuk para badut yang menyenangkan tapi tidak menyeramkan di segala penjuru dunia)

Yogyakarta. Malam gerhana bulan total. 2011.

Advertisements

2 thoughts on “Si Badut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s