Dialog Hujan dan Kopi

15:15. Di satu sudut kafe di kawasan Kemang.
Hujan rintik-rintik.

Lintang melirik ke arah jam tangannya, sudah hampir 30 menit ia berada di meja itu.
Gusar.
3 buah majalah Cosmopolitan yang diambilnya dari rak di pojok ruangan kafe telah tuntas dibolak-baliknya. Dan Hazelnut Latte yang dipesannya pun sudah tidak lagi bisa dikatakan hangat.

Menanti seorang Hanggar.

Hujan turun makin deras ketika yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.

“Sori Lin, tadi si bos minta gue selesaiin draft konsep. Lo udah lama?” ujar Hanggar sambil memberi isyarat lambaian tangan kepada pelayan kafe. “Mas, saya pesan Black Coffeenya ya, gulanya dikit aja,”

Ingin rasanya Lintang menjawab ‘hello, gue udah meninggalkan laporan keuangan yang harusnya gue selesaiin sore ini buat janjian sama lo, tapi lo malah….’
Tapi yang terucap dari mulutnya cuma “It’s okay, gue juga baru sampe kok,”

Kening Hanggar sedikit berkerut mendengar jawaban Lintang, padahal jelas terlihat cangkir kopinya di meja sudah hampir tak bersisa.

Lalu ada jeda antara keduanya. Lintang melirik Hanggar yang sedang sibuk dengan smartphonenya.

“Sorry sorry, mesti bales email bos. Anyway, ada apa nih lo ngajak ketemuan gue, urgent banget kayaknya? Seorang Lintang mustahil cuma iseng aja kalo ngajak ketemuan pas jam-jam segini. Lo tuh pegawai rajin kesayangan semua bos kan. Hahaha,”

“Sialan lo. Sebelumnya gue minta maaf ya Nggar, harus minta lo ketemu pas jam kantor,”

“No problem, lagian gue nanti malem balik lagi ke kantor. Biasa, lembur. Klien gue majuin deadline, gila! Kalo ngga karena dia nawarin bonus lebih karena minta deadlinenya dimajuin, beeeh…,” ujar Hanggar sambil menyeruput kopi pesanannya yang baru saja disajikan oleh waitress. “Mmm… Black coffee di sini emang enak banget, kayaknya gue perlu take away deh buat lembur nanti”

“Stop deh Nggar, lo hitung berapa cangkir kopi pahit yang lo konsumsi tiap hari. Lo hitung juga berapa jam tidur rata-rata lo tiap hari. Being an architect is your passion dari SMA, I do support you, tapi gue ga mau kalo sampe lo sakit,”

Hening.

Dua belas tahun sudah Lintang dan Hanggar bersahabat, sejak sama-sama menuntut ilmu di sebuah SMA negeri di Jakarta, hingga lulus, dan kemudian Lintang melanjutkan sekolah ekonomi di Perth, sedangkan Hanggar mengambil jurusan Arsitektur di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Bandung, dan kemudian melanjutkan studi ke negara impiannya, Jerman.
Dua tahun yang lalu Hanggar kembali ke Jakarta, dan sebuah reuni kecil SMA mempertemukan kembali keduanya. Nostalgia membawa kenangan semasa SMA kembali hadir nyata di antaranya.

“Sebenernya apa yang mau lo omongin, Lin?” ujar Hanggar memecah keheningan.

“Gue… Gue mau pamit sama lo, Nggar,”

“Pamit? Lo mau ke mana lagi? Holiday ke Brussel? Stay di Ubud sebulan lagi? Ga usah bercanda deh, kenapa harus pamit segala?”

“Well, gue dapet panggilan kerja di US, Nggar,”

“Wow, that oil company? Congrats! Akhirnya dapet kan yang lo idam-idamkan,”

“Yes, and I don’t even think to go back to Indo…”

“Alah, ngomong apa sih lo, keluarga, temen-temen lo, semua kan di sini? Masa lo ga mau sih balik ke sini lagi, even pas libur? Gue? Lo ga bakalan kangen sama gue? Hahaha,”

Hening.

“That’s what I want to tell you… Gue sayang sama lo, Hanggara Adriwisena,”

Hening.

Hening.

“Dua belas tahun lo mungkin nganggap gue sebatas sahabat. Selama SMA lo pikir gue ga cemburu waktu lo ngejar-ngejar Tari dan minta bantuan gue buat pdkt? Lo pikir gue ga cemburu waktu lo akhirnya jadian sama Tari? Waktu lo kissing sama Tari di depan gue waktu prom? Bahkan ketika lo balik ke Indo, dan ngegandeng Tari ke reuni, dan bilang kalo kalian engaged, dan sampai akhirnya kalian sekarang udah berumah tangga, lo curhat semua cerita honeymoon lo ke gue, lo kira gue ga cemburu, hah? Tai, sakit banget, Nggar,”

“…”

“Well, it’s okay. Sori kalo gue terlalu nyeplos. Hahaha. Lebih baik gue jujur sekarang sama lo, biar nanti gue ga ada beban di sana. Ini juga salah satu alasan kenapa gue pengen banget kerja di US. Biar gue bisa pergi dari Indo, pergi dari lo, dan kenyataan. And I’ll start a new life there,”

Hening.

Hening.

“Kenapa lo ngga bilang sama gue dari awal?”

“Lo kira gue punya nyali apa? Hahaha. Gue juga ngga mau bikin lo justru menghindar dari gue setelah tau kenyataannya. I wish i could throw it all away,”

Hanggar tersenyum pahit. Tidak ada sepatah kata yang dirasanya tepat untuk dilontarkan pada situasi seperti ini.

Lintang memanggil pelayan dan membayar billnya.

“Gue pamit Nggar, gue harus packing. Besok pagi pesawat gue take off jam 6. And… If you don’t mind, lo bisa…”

“Iya, pasti Lin, gue akan ke bandara besok sebelum ke kantor,”

“Lo boleh ajak Tari. Dia sempurna buat lo,” ujar Lintang seraya bangkit dari sofanya. “See you tomorrow Nggar, thank you for coming. And, you know, sorry,”

Hanggar tersenyum, dan menepuk bahu Lintang, “At least, lo udah jujur,”

Lintang tersenyum pahit, kemudian berbalik melangkah menuju pintu keluar.

“Hei!” panggil Hanggar.

Lintang menoleh.

“Jangan hapus akun Skype gue di sana ya, suatu saat gue bakal ngenalin lo sama anak cucu gue. Hahaha,”

“Hahaha. I will do the same, but.. Yeah, maybe later. Time heals,” sahutnya sambil tersenyum. “Bye, Nggar!”

Hanggar masih terduduk di sofanya, menyaksikan sosok Lintang keluar kafe dan menuju Civic hitamnya yang terparkir di parkiran tanpa memperhatikan derasnya hujan yang turun dan membasahi tubuhnya.

Betapa mengejutkannya sore ini. Dan Hanggar masih saja terperangah bagaimana bisa selama 12 tahun ia tidak pernah tahu, bahwa sahabatnya ternyata memendam perasaan. Sahabat terdekatnya. Sahabat tempatnya bercerita ini itu. Sahabat yang dulu sama-sama menjadi senior idola junior-junior sekolah. Sahabat yang bahkan awalnya sempat ditaksir oleh Tari.
Sahabatnya yang tampan, Lintang Adhi Danaswara.

15:55. Di satu sudut kafe di kawasan Kemang.
Masih hujan. Basah kuyup. Dan dingin.

21:04. 17 Agustus 2011. Selamat hari kemerdekaan!

Advertisements

5 thoughts on “Dialog Hujan dan Kopi

  1. i know it might be a bit too late, but think i admire ur writing character already, evn before i read ’em all. such a twisting mindfuck. seriously, u got talent. keep it up.

    newest big fan of urs.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s