Kisah Titik

Aku membenci aku yang memiliki otak kecil tapi berjejal penuh dengan banyak sekali tanda tanya. Milyaran tanda tanya yang bersarang di otak dan lalu menjalar ke seluruh tubuhku ini tumbuh dalam suatu sistem paralel, yang jika dibentangkan, mungkin mampu menyelimuti semesta. Ketika muncul satu tanda tanya, ratusan lainnya menyusul. Ketika satu terjawab, tumbuhlah seribu yang baru. Maka, percumalah gunanya titik, apalagi koma.

Padahal dulu aku bersahabat dengan titik. Ada rasa tenang di dalamnya, dan rasa cukup. Siapa yang butuh untuk mencari, bila segala sesuatunya sudah cukup dan pasti. Lambat laun, titik berekor, lalu bermetamorfosislah menjadi koma. Koma adalah merajuk tanpa terlihat, merajuk untuk tertuntaskan. Lambat laun koma adalah menuntut tanpa menuntun, menuntut yang belum terpastikan.

Ratusan hari koma bersarang di otak, hingga suatu pagi aku terbangun dengan rasa yang asing. Rupanya koma bertransformasi, ekornya mengembang dan membubung besar di atas titik, tidak lagi berupa ekor kecil yang menempel pada titik. Kusebut ia tanda tanya. Tanda. Tanya. Karena ia selalu terasosiasikan dengan tanya. Tanda tanya memiliki kemampuan untuk mengganda dengan sangat cepat, melebihi organisme apapun yang ada di semesta ini. Ironisnya, seluruh organ dan indera yang kumiliki rupanya telah menjadi antek-anteknya. Maka aku adalah mesin yang digerakkan oleh milyaran tanda tanya yang saling terintegrasi selama jutaan detik. Dan aku semakin merindukan titik.

Lalu datanglah kamu. Katamu, kamu adalah ahli tanda, bisa membaca tanda, menerjemahkan tanda, berkomunikasi dengan tanda, memperkuat atau melemahkan tanda. Kuutarakan kepadamu tentang keinginanku memisahkan diri dengan koloni tanda tanya yang bersarang di tubuhku. Kamu bilang, kamu bisa berkomunikasi dengan mereka. Lalu kubiarkan kamu memejamkan mata- melebur, istilahmu. Seribu detik, dua ribu detik, tiga ribu detik…

Aneh, milyaran tanda tanya yang telah bersarang jutaan detik dalam tubuhku lambat laun meluruh hanya dalam sekejap. Luruhannya lalu membentuk satu koma di otak.  Kamu semakin terpejam, dan koma semakin membesar di otak. Hingga sepuluh ribu detik, kuputuskan untuk mencoba membangunkanmu. Koma di kepalaku mulai menyusut seiring dengan mata cokelatmu yang semakin terbuka. Yang kuingat hanya dekapanmu sesaat setelahnya. Ada rasa asing yang menyelimuti, entah apa.

Mungkin aku cuma lupa merasakan titik, saat ia kembali hadir dan ada, nyata dan mengisi. Saat ini. Di dekapmu.

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Titik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s