Sempurna Tanpa Tapi

Aku tidak sedang berbicara tentang luasnya hamparan pasir halus yang tak berujung ataupun damainya suara debur ombak di kejauhan.

Aku juga tidak sedang berbicara tentang riuhnya gerombol burung laut yang terbang menuju horizon ataupun hangatnya merah jingga langit di barat.

Kita tidak sedang berbincang tentang suatu senja yang sempurna di tepi laut.

Karena kita, tidak pernah berbahasa tentang kesempurnaan.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Menyusuri Parangkusumo di sore hari selalu menyenangkan. Dalam kunjunganku yang kesekian kalinya, lautan pasir di selatan Yogyakarta ini tetap mampu membuatku jatuh cinta. Lagi dan lagi. Sapuan angin dari laut selatan menerpa rambutku yang kubiarkan tergerai, adalah salah satu hal yang paling kurindukan dari pantai.

Matahari mulai pulang ke kandang, aku menghentikan langkahku dan memutuskan untuk duduk, menghadap ke barat. Menyaksikan senja adalah favoritku. Dari senja, aku belajar bahwa betapa sesuatu yang luar biasa selalu terasa cepat sekali berakhir. Hingga terkadang aku tidak rela untuk melepaskan padanganku pada arah horizon. Takut kelewatan. Karena pada momen-momen senja, rasanya pergerakan matahari menjadi super lebih cepat ketimbang biasanya. Nyatanya, kecepatan rotasi bumi selalu konstan, sehingga cepat lambatnya gerak semu matahari sejak fajar hingga senja adalah sama. Ah, tapi dasar aku si manusia, selalu memaki siang hari panas yang lama dan panjang, tapi mengeluhkan matahari senja yang terlalu cepat terbenam.

Aku melihatmu melambaikan tangan dari kejauhan. Kamu datang. Mungkin hanya aku, orang yang tidak praktis (atau terlalu romantis) untuk menjadikan Parangkusumo sebagai meeting point di kala senja. Sejujurnya aku tidak punya ide meeting point yang lebih brilian ketika kamu bilang bahwa sore ini kamu mengajak bertemu, tetapi harus memberikan briefing pada para seniman muda untuk proyek residen di salah satu art space di Bantul terlebih dahulu sebelumnya. Aku merindukan senja yang teduh dan tenang, kamu merindukan seafood segar di tepi Pantai Depok, maka Parangkusumo adalah pilihan yang paling cerdas.

Kamu mengenakan kaos biru tua itu, favoritku, tentunya kamu tahu itu. Dengan senyumanmu, kamu menghampiri lalu kemudian duduk di sebelah kiriku. Di antara hamparan pasir. Lalu diam.

Waktu menunjukkan tepat pukul 17.30, 2 menit berlalu, aku maupun kamu masih nyaman dengan diam masing-masing. Langit semakin memerah dan satu dua pengunjung mulai berlalu pulang melintas.

“Siapa penemu konsep kata ‘sempurna’ untuk yang pertama kalinya?” katamu tiba-tiba sembari menatap matahari yang perlahan tenggelam tertelan horizon.

“Jangankan untuk tahu siapa pencetusnya. Untuk tahu siapa lagi selain kamu di dunia, yang mempertanyakan hal itu pun aku ga kepikir,” jawabku sambil tersenyum.

Laut, senja, dan kamu. Adalah sempurna. Menit-menit itu adalah sempurna.

“Dari kecil, kita didoktrin tentang kesempurnaan. Nilai yang sempurna, sosok yang sempurna, apapun bisa di-sempurna-kan. Sempurna jadi tolak ukur, bahkan untuk sesuatu yang sama sekali  tidak bisa diukur. Hari ini, mungkin senja yang kita lihat adalah sempurna. Lalu ketika besok kita berkesempatan untuk menyaksikan senja yang ternyata jauh lebih indah, maka yang itulah tolak ukur kesempurnaan yang baru. Senja hari ini, tidak lagi sempurna. Karena kita telah melihat yang lebih sempurna,” ujarmu.

“Well, kesempurnaan memang bukan hal absolut, bukan juga hal yang objektif. Bisa jadi persepsiku, senja yang sempurna adalah hari ini, tapi bagimu yang sempurna adalah senja kemarin. Ya memang benar mungkin, mana ada yang sempurna selain Tuhan?” balasku

“Kamu,”

Lalu hening.

“Basi! Makan yuk, laper, katanya mau seafood!” ujarku sembari beranjak, segera mengalihkan topik pembicaraan.

Bukan, bukan rasa risih ataupun hangat seketika yang kurasakan dalam pembuluh darah di wajahku yang membuatku berusaha untuk sesegera mungkin mengubah topik pembicaraan. Kita tau, manusia diprogram untuk mampu melawan suara hatinya lewat logika. Spesifikasi dan kualifikasi masing-masing lah yang menentukan kuat tidaknya perlawanan. Seandainya kamu tahu, berapa besar kekuatan yang kukerahkan untuk membuat perlawanan pada suara hatiku sore ini.

Aku sudah kalah kemarin, saat mengiyakan pertemuan ini.

“Yuk!” balasmu.

Matahari sore ini lalu tenggelam dengan sempurna. Tanpa pengecualian dan tanpa tapi.

Bagiku, sempurna adalah soal persepsi. Sempurna adalah tanpa pengecualian. Sempurna adalah kebebasan dari tapi. Bahkan kita pun adalah sempurna, aku dan kamu. Tapi lalu, ada beribu tapi yang mengawali kalimat di setiap pembicaraan yang mengacu pada topik aku dan kamu. Tapi dan tapi.

Karena tidak semua hal yang disuarakan hati, adalah hal yang sejalan dengan logika.

Karena tidak semua yang kita inginkan, adalah hal yang harus kita genggam.

Karena ketika kita siap menerima tanpa tapi dan tapi, adalah sempurna yang sejatinya.

7 Januari 2015. Tulisan yang sebenarnya sudah berbulan-bulan cuma dikurung dalam Pages di laptop tersayang karena tidak terselesaikan 🙂 Happy new year readers!

Advertisements

10 thoughts on “Sempurna Tanpa Tapi

  1. I love this line “Karena ketika kita siap menerima tanpa tapi dan tapi, adalah sempurna yang sejatinya.” 🙂

  2. Akhirnya ada kesempatan baca tulisan kak ols.. kata siapa romantis harus selalu lewat ucapan, lewat tulisan seperti ini pun sudah lebih dr romantis.

    ditunggu tulisan selanjutnya kak, terutama tentang si ‘dia’ itu. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s