Time Capsule

Siang ini, kepala saya menghangat karena iseng (alias sok tahu) kutak-katik website backbone dari project terbaru yang sedang saya tangani. Karena pada akhirnya saya sampai pada titik ‘enough for today’, akhirnya saya pun menutup semua tab browser saya, dan kemudian membuka tab baru. Ada jeda beberapa detik di mana saya terdiam di depan page Google, sampai akhirnya saya mengetik nama saya di kolom pencari Google.

‘olga elisa’

Hahaha sedih banget ya googling nama sendiri. But then, saya menemukan akun Kompasiana saya! Tempat di mana saya menulis di tahun pertama kuliah saya. 2010! 5 tahun yang lalu! 5 tahun itu rasanya jauuuuh sekali. Saya menulis beberapa prosa dan puisi di sana. Di antaranya adalah puisi-pusi singkat ini:

Saya dan Kamu. Bedanya? (2 Mei 2010)

Bagi saya, kamu itu air,
Tidak tergenggam, tapi nyata dan hadir,

Bagi saya, kamu itu pualam,
Karena saya harus belajar memahami hati keras kamu dalam-dalam,

Bagi saya, kamu itu lampu minyak di gerobak nasi goreng malam yang lewat di depan saya,
Bercahaya, lalu bergerak menjauh hingga mata saya tidak melihat lagi pendaran cahayanya,

Bagi saya, kamu itu jari-jari tangan saya,
Kecuali dengan ditebas yaaa.. ngga bisa lepas dari sananya,

Tapi bagi kamu? Saya.. saya mungkin cuma angin di malam hari dingin,
Lewat, merusuk ke tulang, bikin sakit. rematik.

* * *

Hujan. Layu (2 Mei 2010)

Setiap saat dan di mana-mana…

Saya mendengar mereka membicarakan hujan

Saya juga membaca proses turunnya hujan di buku geografi

Menonton berita tentang banjir di televisi

Mendengar teman yang mengeluh jalanan macet karena hujan deras, dan…

Melihat ojek payung berseliweran berebutan dengan banci di dekat lampu merah

Tapi saya nggak pernah melihat hujan

Mungkin lebih tepatnya; saya nggak bisa melihat hujan

Suatu hari saya pernah melihat mereka semua hilir mudik berpayungan di jalan

Saya juga melihat jalanan basah, becek, banjir

Orang-orang mengutuk semuanya karena hujan

Hujan lagi hujan lagi

Saya bahkan nggak tau seperti apa yang namanya hujan

Orang-orang basah kuyup

Tapi saya tidak merasakan rintik hujan sama sekali

Saya bingung

Ya sudahlah

Entah saya yang terhipnotis atau mereka yang berhalusinasi tentang hujan

Saya nggak tau

Nggak penting

Semalam katanya hujan turun

Dan lagi-lagi saya nggak tahu

Yang saya tau tadi pagi jendela kamar saya basah

Tapi saya ragu hujan yang melakukannya

Lalu saya keluar menuju halaman rumah saya

Tanahnya basah, daun-daun mengkilap karena air hujan semalam, kata mereka

Aroma tanah semakin tajam

Tiba-tiba Ibu berteriak memanggil saya

Katanya; ‘Jangan main hujan-hujanan’

* * *

Menemukan puisi-puisi lama itu serasa kayak menemukan time capsule. Gila! Bahkan saya lupa, saya pernah menulis itu semua. Kuliah adalah masa-masa di mana saya banyak sekali menelurkan tulisan, walaupun tidak sedikit pula yang akhirnya cuma jadi draft yang terlupakan, dan akhirnya nangkring di Trash karena akhirnya diputuskan untuk tidak diteruskan.

2013 dan 2014 adalah masa-masa stagnan saya dalam menulis, tugas akhir kuliah dan pekerjaan full time membuat ide dan niat menulis terkalahkan oleh rasa capek dan malas. Di 2015 ini, saya memutuskan untuk part time, masih di NGO yang sama, tetapi beda project, yang membuat saya lebih banyak bekerja secara remote. Jadi, dengan adanya sedikit kelonggaran waktu yang saya miliki sekarang, saya akan men-challenge diri saya sendiri untuk kembali konsisten dalam menulis.

Kalau sudah punya waktu yang lebih fleksibel, tapi kemudian saya masih malas menulis, well, coba kita lihat apa alasan saya (yang saya buat-buat) nantinya 😛

Advertisements

10 thoughts on “Time Capsule

  1. Benar sekali, masa kuliah biasanya memang masa paling produktif untuk menulis. Saya jadi ingat ketika kuliah jurusan detektif di Baker Street Collage, prof saya Mr. Holmes selalu menyemangati saya untuk menghasilkan karya tulis. Tetapi karena tidak lulus sensor, maka banyak tulisan itu yg disita pihak yg berwajib. Salam kenal dari situs hitam.

    Nb; puisinya bagus lho

  2. Suka sama puisinya Ninis. Gue juga kangen nulis bebas walau karya tulisannya buruk. Sekarang menulis itu jadi kerjaan, tapi penuh dengan SOP dan harus sesuai kaidah jurnalistik. Preketek, bahkan gue gak paham dasar-dasar jurnalistik. 😑

    Numpang scroll ke bawah terus di blog Ninis ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s