Suatu Hari di Sebuah Coffee Shop

1 gelas Latte.

Silakan,” ujar waiter sembari menyajikan segelas Latte panas.

Thank you,” balas si wanita.

Wanita itu terlihat gusar. Duduk sendiri, di sudut ruangan salah satu coffee shop di kawasan Melawai ini. Ia nampak menyibukkan diri dengan smartphonenya, sambil sesekali diliriknya arah pintu masuk. Rambut wavy-nya diikat ke belakang, sesaat setelah waiter meletakkan Latte pesanannya di meja. Tipikal wanita urban, dilihat dari pakaian dan aksesoris yang dikenakannya. Tebakanku, usianya sekitar 26. Terlalu dewasa untuk ukuran wanita 20-an, tapi terlalu muda untuk dibilang 30. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Kudengar suaranya yang lembut berbicara pada lawan bicaranya.

Hey,”

Kamu di mana?

Iya, aku udah sampai,

Oke, aku tunggu ya,

Ah, ternyata sedang menunggu seseorang. Apakah seseorang itu yang berada di balik kegusarannya siang ini?

15 menit kemudian, seorang laki-laki datang. Rupanya dia yang sedang ditunggu-tunggu oleh wanita itu.

Maaf ya aku telat,

Ngga apa,” jawab perempuan itu singkat.

Apa kabar?” tanya si laki-laki. Canggung.

Baik,

Setelah itu, yang terdengar hanyalah backsound Another Dawn dari Breakbot yang diputar pelan di ruangan coffee shop yang siang itu sedang tidak banyak pengunjung. Setelah ratusan detik dalam jeda, wanita itu membuka suara.

Masih ingat ngga, kencan pertama kita?” tanyanya.

Si lelaki tersenyum, “Gimana aku bisa lupa? Tepat di kafe, dan di meja ini kan, waktu kamu bilang setuju untuk jadi pacar aku, dua tahun yang lalu,” ujarnya.

Kita memulai semuanya di sini, dan..” si wanita menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, “dan aku mau mengakhirinya di sini juga,

Laki-laki itu tersentak. “Oh… ok, kalau memang itu mau kamu,”. Hening sejenak. “Aku sudah menduga. Well.. what to say? Aku harap itu memang yang terbaik untuk kamu,” ujarnya.

Wanita itu hanya terdiam dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Beberapa saat kemudian, ia nampak mengemasi barang2nya ke dalam tas.

Aku pulang duluan ya,” ujar si wanita yang lalu beranjak dan keluar dari coffee shop, menerobos hujan kecil sembari menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan.

Laki-laki itu masih duduk di tempat yang sama. Ia meraih ponsel di saku celananya, nampaknya hendak menelepon seseorang.

Halo,

Lo di mana?

Gue barusan putus sama Rayna,

Iya, serius. Gue di coffee shop biasa nih, ke sini dong,

Oke, jangan lama-lama ya,

Bye,

I love you too, Gary,

***

1 cangkir Cappuccino dan 2 cangkir Flat White.

Silakan,” ujar waiter ramah setelah meletakkan secangkir cappuccino, dan dua cangkir flat white di meja.

Tiga orang wanita usia 30-an sedang berbincang seru. Dari obrolannya, sekilas aku bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah teman lama yang sedang berkumpul.

45 menit obrolan berlangsung dengan penuh canda tawa, tentang masa lalu, kehidupan sehari-hari, hingga gosip-gosip hangat.

Ah gila ya, si Dio sama Riri, sekarang udah mau nikah. Inget ngga sih dulu waktu SMA, mereka berdua kan sama-sama nerd gitu,” ujar wanita yang mengenakan kemeja satin berwarna putih.

Hahaha iya. Gue juga kaget dengernya,” balas wanita yang mengenakan dress berwarna biru.

Ih, tapi ya, yang paling ngga disangka-sangka banget itu si Bita. Udah pada tau belum sih, dia tuh sekarang jadi simpenannya pejabat,” sahut wanita yang mengenakan blouse berwarna hitam.

Ah, yang bener?

Iya, masa sih? Ngga nyangka ya,

Iya, gue pun ngga percaya, tapi ya memang kenyataannya seperti itu. Gimana ya rasanya jadi orang ketiga di rumah tangga orang lain, ngga punya hati banget!” ujar si blouse hitam.

Untung kita ngga pernah satu gank ya sama Bita waktu SMA, malu-maluin deh ya, kalo punya temen kelakuannya begitu,” ujar si dress biru.

Eh, tapi Bita dari SMA kan memang terkenal bitchy banget. Coba sebut mantan-mantannya dia, mulai dari Adi, Reza, Andri, Geo, sampe siapa tuh, kapten tim basket sekolahan kita dulu?” ujar si wanita dengan kemeja satin putih.

Agra!” jawab kedua temannya dengan kompak, disambut tawa ketiganya.

Ah well, memang bitchy sih. Tapi patut diakui kalo dia lucky bitch, secara ya physically masih lebih oke gue ke mana-mana, tapi gue cuma laku satu kali di SMA, cuma pacaran sama si Seno ini, siriiiik gue. Hahahaha,” ujar si blouse hitam yang lalu disambut oleh tawa teman-temannya.

Ya jangan sampe sirik sama Bita juga dong, masa lo yang udah bahagia sama Mas Seno dan si cantik Bella pake acara sirik sama perusak rumah tangga orang sih hahaha. Oh iya, lo jadi mau cari kado ulang tahun buat Mas Seno kan?” tanya si dress biru.

Jadi dong. Lo mau nebeng gue kan ke PI? Tapi gue mesti jemput Bella dulu ke sekolah ya,”

Yuk yuk, kangen gue sama Bella. Pasti sekarang udah mulai banyak yang naksir sama anak lo ya?” ujar si dress biru.

Lho, lo mau jemput Bella? Ini udah jam 12, mending lo buruan cabut sekarang,” ujar si kemeja satin putih.

Astaga, ngga sadar deh gue, ini udah jam 12 ya. Ya udah kalo gitu, cabut yuk, Win,” ujar si blouse hitam kepada si dress biru.

Yuk deh,

Nan, lo habis ini mau ke mana? Kita duluan ngga apa-apa kan?” tanya si blouse hitam kepada si kemeja satin putih.

Santai lah, gue mau ngerokok dulu deh di sini. Kayaknya habis ini mau ketemu klien di sini aja kali ya sekalian,” jawab si kemeja satin putih.

Duh, asik banget sih si bos EO, kenceng ya klien ada melulu,” ujar si dress biru kepada si kemeja satin putih.

Yah, disyukuri aja deh. Amiiiin,” balas si kemeja satin putih.

Heh, jangan keasikan kerja melulu. Inget, lo harus buruan cari suami terus nikah, nyusulin kita hahaha,” ujar si blouse hitam.

Si kemeja satin putih hanya tersenyum menanggapinya. Setelah kedua temannya berpamitan dan keluar dari coffee shop, si kemeja satin putih kembali duduk. Ia hendak menyalakan pemantik rokoknya ketika tiba-tiba ponselnya bergetar.

Halo,

Ya ampun, aku kan udah bilang. Aku aja yang telepon kamu. Untung aku udah sendirian sekarang. Kalo masih ada mereka kan berabe,

Iya, mereka udah pergi,

Kamu mau ke sini?

Boleh dong, aku kan kangen banget,

Yes, see you, Mas Seno,

***

Aku senang menjadi aku. Menjadi teman kesendirian, menjadi pendengar yang baik, menjadi pengamat, dan menjadi saksi bisu. Tenang saja, rahasiamu tidak akan pernah ku bongkar. Karena setelah ini, aku akan lenyap. Entah karena kamu tenggak perlahan atau kamu abaikan, lalu dibiarkan mendingin, hingga akhirnya dibereskan oleh waiter ramah di coffee shop ini, sesaat setelah kamu pergi.

Karena aku, adalah kopi yang kamu pesan.

***

Hujan siang hari, 1 April 2015. Melanjutkan draft tulisan yang bersarang di laptop. 

PS: Ada yang bisa menebak, cerita ini ber-setting di kafe mana? 😉

Advertisements

15 thoughts on “Suatu Hari di Sebuah Coffee Shop

  1. What a short but deep story. Really good 🙂
    Saya coba tebak, semoga kata ‘Melawai’ memang petunjuknya : Starbucks Coffee di Jl. Melawai?

  2. itu di Mangia yaa?

    Anyway, great stories (reminds me of Arisan! in some way). I love the twisted ending but I kinda predicted it would be similar to your “Dialog Hujan dan Kopi”. That’s your style! Hands down! 😉

  3. Hi Ols, i enjoyed read the story, kalo dah banyak bisa di bikin buku btw itu coffe shop daerah senopati kali ya hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s