Pekerjaan itu Kayak Jodoh

Pekerjaan itu kayak jodoh. Kalau memang ditakdirkan dan baik untuk kita, ya be it. Kalau ngga, there will be the one yang memang terbaik,” – Olga Elisa, kepada seorang teman beberapa hari yang lalu, setelah sang teman bercerita bahwa sang pacar kerap gagal ketika melakukan seleksi rekruitmen pekerjaan baru.

Pekerjaan itu kayak jodoh.

Cliche? Tergantung gimana kamu percaya sih.

Well, it was super cliche for me back then. Tapi setelah semua yang saya alami, akhirnya saya mulai percaya, kalimat itu bukan cuma mantra optimisme atau juga kalimat penghiburan basa-basi yang diucapkan pada seseorang yang tidak lolos seleksi kerja (walaupun sebenarnya si pengucap pun meragukannya).

Saya adalah lulusan Teknik Arsitektur di salah satu universitas negeri di Yogyakarta, yang bahkan sebelum kelulusan, saya sudah menetapkan hati untuk bekerja di bidang lain, other than architecture. Saya suka desain, lulus tepat waktu, dan membuat orangtua saya cukup bangga dengan predikat yang diumumkan setelah nama saya dipanggil ke podium wisuda. There’s nothing wrong between me and architecture, I just knew I wasn’t really into it.

Setelah lulus, saya sempat menjajal sebuah seleksi semacam MT di sebuah perusahaan multinasional yang namanya selalu tercantum di jajaran rangking teratas perusahaan-perusahaan di Indonesia. Yang membuat saya tertarik untuk apply kala itu? Tentu saja tantangan bekerja di bawah nama besar perusahaan dan benefitnya yang menggiurkan.

Dalam 2 bulan, saya lolos melewati serangkaian seleksi, mulai dari phone interview, test tertulis, FGD, HR interview, dan akhirnya loloslah saya ke tahapan paling dewa; user interview. Cuma ada satu kata yang terlintas di benak saya ketika saya mengetahui tugas yang diminta untuk seleksi itu; WHAT??

Karena tahukah kamu, tugas yang diminta adalah ‘Presentasikan Tugas Akhirmu sewaktu kuliah di depan para user!’. Ok, this can’t be good. Saya sudah bisa membayangkan betapa kacaunya saya nanti ketika mempresentasikan tugas akhir arsitektur saya yang bertajuk ‘Perancangan Pusat Kesusasteraan Indonesia dengan Penekanan Semiotika’ di hadapan para petinggi perusahaan yang membawahi divisi sales, yang tentu saja bukan berasal dari background pendidikan seperti saya.

Benar saja, pada hari H, dari 7 orang yang lolos, lucunya hanya saya yang tidak berasal dari Fakultas Ekonomi dan turunannya. Terlebih lagi, saya adalah lulusan Teknik Arsitektur, semakin jauh dari awang-awang. Presentasinya dilakukan secara tertutup, kami para peserta, menunggu di luar ruangan. Saya mendapat giliran menjelang urutan terakhir, dan beberapa teman yang sudah menyelesaikan presentasi bercerita pengalamannya ketika berada di dalam, bagaimana mereka memperdebatkan teori ekonomi, atau mendiskusikan rumus akuntansi. Saya sudah pasrah, tidak mungkin mereka mendebat saya tentang teori semiotika, maupun rumus menghitung cahaya dalam ruangan.

Dan giliran saya pun datang. Dan, yak! Seperti yang telah diduga, ketiga orang bapak-bapak user itu…. menertawakan saya dan topik presentasi saya. Salah seorang user bahkan mengeluarkan celetukan, ‘Kamu lulusan arsitektur, apply kerja di sini, sempat aktif di ekskul majalah, punya bisnis di bidang penjualan, dan freelance sebagai fotografer. Kamu terlalu banyak minat!

Saat itu yang ada di pikiran saya ‘Was I chosen just for being such a joke?’, maksud saya, apabila memang pada akhirnya kelolosan seleksi ini bergantung pada background pendidikan terakhir, mengapa dari awal saya diloloskan? Dan pada akhirnya, saya pun gugur dan dinyatakan tidak lolos seleksi.

Waktu itu, saya belum bisa menerima konsep ‘pekerjaan itu kayak jodoh’. Bagi saya, di mana kita sudah berusaha keras, ya seharusnya akan membuahkan hasil yang baik. Saya melupakan faktor lain, yaitu ‘yang dianggap terbaik oleh manusia, belum tentu merupakan yang terbaik bagi Tuhan’.

Beberapa hari lalu, obrolan dengan seorang teman kembali menampar saya. I can say that I love what I’m doing right now. Apa yang saya lakukan dan saya miliki detik ini tentu tidak dapat terwujud apabila kala itu saya lolos seleksi dan bekerja di perusahaan multinasional itu. Saya tidak akan menemukan kebebasan dan kesempatan-kesempatan yang saya temui hingga saat ini. Dan yang terpenting, mungkin, jika saya bekerja di sana, saya akan menganggap pekerjaan sebagai rutinitas untuk menjaga isi rekening bank belaka, tapi tidak akan pernah mengenal arti passion.

Semuanya pasti akan datang dengan segala plus dan minusnya, termasuk pekerjaan. Dan terlepas dari itu semua, satu pertanyaan yang paling krusial adalah ‘Is it really what you want?’, karena terkadang manusia membutakan diri terhadap pertanyaan itu, dan Tuhan perlu sedikit bermain takdir di situ untuk meluruskan. Menuju yang terbaik.

Karena pekerjaan itu, kayak jodoh 🙂

Advertisements

9 thoughts on “Pekerjaan itu Kayak Jodoh

  1. Hi, miss olga elisa.
    I think you such a good writer, so why don’t you start to write a book?
    I think your genre is like dee (dewi lestari) books.
    Hehe it’s just my opinion.

    1. Hi Sukma, thank you for appreciating 🙂 it was so nice of you.
      I guess I still need more time to develop things here and there related to my writing skill. But hey, who knows? Siapa tahu nanti jodoh suatu hari ya hehe amin deh..

  2. setuju banget ols! aku pernah kerja beberapa bulan di sebuah perusahaan yang bidangnya aku suka tapi (sayangnya) aku ga bisa menikmati jobdescnya. cuma bertahan 8 bulan deh. sempat merasa sangat gagal juga dan sedih. tapi sekarang aku mikir..well memang sudah seharusnya begitu jalannya. kayak ketemu suami, pake acara putus dulu sama pacar, drama-drama dulu dengan laki-laki, dll..hahaha

    1. Betul kak, buat aku sekarang, kenyamanan kerja itu yang paling penting. Apalagi kalau kamu yang udah berkeluarga ya. Pengen jadi ibu produktif deh kayak Kak Nike 😀

  3. Hai Olga
    Saya nemu instagram kamu dan main kesini. Pasti arsitektur u*m ya. Ini tulisan mewakili perasaan saya juga waktu uda berjuang dapetin kerjaan tapi gagal. Memang benar, pekerjaan adalah jodoh. Semoga kelak saya seperti Olga, menemukan jodoh pekerjaan yg tepat. Keep writting, keep sharing 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s