The Right Guy Formula

Selama bulan puasa, rasanya pola kerja saya agak sedikit bergeser, and somehow saya merasa jauhhh lebih produktif. Jumlah postingan di blog ini adalah salah satu buktinya. Ini adalah postingan keempat saya dalam rentang waktu tiga minggu. Di bulan puasa ini, sebagai freelancer, saya memanfaatkan waktu malam hingga dini hari, antara waktu berbuka dan sahur, untuk mengerjakan hal-hal yang membutuhkan banyak inspirasi dan pemikiran. Kenapa malam hari? Tentu saja supaya saya bisa memberi asupan cemilan ketika otak saya mulai berasap. Dan saya baru menyadari bahwa atmosfer dan ide untuk menulis saya jauh lebih mudah dijaring di jam-jam seperti ini, ketika seisi rumah sudah mulai tidur dan hanya ada suara ketikan jari saya di keyboard laptop dan suara musik dari playlist iTunes saya. Oh, saya pun memilih untuk menonaktifkan handphone. Menonaktifkan handphone juga hanya possible dilakukan di luar jam kerja, so it makes another reason to be more focus to work at night.

And here I am, memutuskan untuk mencurahkan pikiran saya di postingan kali ini. Ah well. I’m not gonna bluff about work stuff on this post anyway. Postingan ini terlahir dari obrolan saya dengan beberapa teman selama satu-dua minggu terakhir. Entah mungkin beberapa dari kalian setuju atau tidak, tapi saya dan beberapa teman sepakat pada pernyataan bahwa semakin bertambah umur, semakin banyak pengalaman dalam being in and out of relationship, semakin banyak orang yang kita temui, dan semakin tersadar lah kita bahwa.. There is a certain shift in terms of the criteria of our potential partners! Jeng jeng!

Let’s simplify this. Tarik mundur ke belakang, let’s say jaman-jaman SMA atau kuliah awal-awal. Fisik dan level kekerenan seseorang mostly menjadi kriteria nomor 1 ketika kita menyaring calon pasangan. That’s why, kakak idola kita di sekolah would be either para lelaki di klub basket or cewek-cewek ekskul dance, yang fisik dan level coolnessnya berada di jejeran terdepan satu sekolahan.

But then, di umur mid 20 ke atas, as we grow, ada banyak hal lain yang jauh lebih krusial untuk dipertimbangkan sebagai kriteria calon pasangan ketimbang faktor tampang dan kekecean belaka. The more we learn, the more we realize many things; bahwa kesempurnaan hanyalah milik Yang Kuasa; bahwa semua orang tentu memiliki kelebihan dan kekurangan; bahwa ketampanan wajah + kebaikan hati + kepintaran + kemapanan hanya dimiliki pangeran dalam dongeng di majalah Bobo; bahwa diri kita pun ga sempurna, kenapa harus mencari kesempurnaan? Ingat, semua selalu ada kekurangannya, bahkan ganteng-ganteng aja bisa jadi serigala.

“So what’s your type?”

Dang! Sulitnya menjawab pertanyaan itu. Padahal dalam otak, saya sudah memiliki standar, but to pour it into real description, saya pun bingung. Setelah berbincang dengan seorang teman yang kita bisa sebut dia sebagai Y, kami pun menyadari bahwa doktrin umum tentang kriteria standar calon pasangan membuat kita bisa jadi menutup mata. Baik saya maupun Y pernah melewatkan seseorang yang sebenarnya sangat potensial sebagai calon pasangan, tapi dulu kami memandangnya sebelah mata karena si lelaki ini tidak memenuhi satu kriteria sepele kami pada kala itu.

Then one day, this random topic also led to a talk between me and one of very good friends of mine. He’s a guy, sebut saja X. X lalu membuatkan The Right Guy Formula untuk variabel pelaku wanita muda, aktif, dan positif (seperti saya, uhuk), yang hopefully quite objective dan tidak condong secara gender, karena X laki-laki, saya perempuan.

Girls, take a note for this! And guys, you can read and measure yourself 😛

So, here’s the formula. When you fall for a guy, that guy should have all these factors:

1. Baik (B)

Baik memang sangat luas pengertiannya, relatif, juga subjektif. But I guess, deep down, semua orang bisa mendefinisikannya berdasar pandangannya masing-masing. It’s about how he acts, how he treats other, apapun yang berkaitan dengan dirinya dan sekitarnya. Ini juga bisa terlihat dari cerminan diri kamu. A warmhearted girl doesn’t want to spend her lifetime with a swagger and snob guy, does she?

2. Royal (R)

Even this X guy said this! Menurut X, laki-laki yang itungan alias pelit tidak akan membuat perempuan bahagia, apalagi ketika sudah berumah tangga. So, think twice if you want to stay with stingy guys. Ini bisa terlihat dari cara mereka memperlakukan diri mereka sendiri maupun orang lain ya, karena ini mencakup keroyalan kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Dan, seroyal-royalnya mereka di masa-masa manis PDKT, oh c’mon, you girls are too smart to read the truth 😉

3. Sabar (S)

Ada apa dengan semua perempuan, sampe wajib banget punya pasangan sabar? Hahaha. Well, I personally need this so bad, karena saya adalah tipe tidak sabaran hahaha, jadi perlu ada peredam untuk itu. But.. I guess, ini juga menjadi syarat penting. Siapa sih yang ngga mau punya pasangan yang tenang dan menenangkan. I heard a lot of stories about guys being emosional dan tempramen dalam hubungan love lifenya. Dan tidak sedikit yang kemudian menjurus ke hal-hal yang buruk. So, yeah, every girl deserves this kind of guy.

4. Berwawasan Luas (W )

Smart is the new sexy. Well, ngga harus IQ200, cukup punya wawasan luas yang bisa bikin nyambung obrolan dan diskusi. I couldn’t agree more with this point. I love to share thoughts about almost everything, dan akan sulit ketika at some points saya tidak mendapatkan umpan balik tentang pemikiran saya.

5. Pekerja Keras (P)

Kaya bukan jaminan, yang terpenting, si lelaki ini adalah pekerja keras. You don’t want to end up with a guy with no vision and future, lah ya. A guy at this age should have known apa yang sedang dia kerjakan, mau ke mana dia ke depannya, dan bagaimana cara mencapainya. Pekerja keras juga biasanya memiliki attitude yang bagus, apalagi tentu jika diimbangi dengan poin-poin sebelumnya.

6. Menghargai Diri Kamu (H)

Ini mutlak, dan ga bisa diganggu gugat! They should respect you for who you are and what you do. Kalau ngga? Just leave him. Saya pernah punya pengalaman, when a guy on Tinder approached me (huft, iya, saya sempat main Tinder awal tahun lalu, sebelum akhirnya disadarkan oleh beberapa teman, dan saya putuskan untuk meng-uninstall-nya). So beberapa bulan yang lalu, this Tinder guy asked me about my job. And right after I told him about some digital-social stuff I had been working on, he was just likeOh begitu aja?‘. Damn! Rasanya pengen nantang balik untuk dia melakukan semua kerjaan saya. It was a big turn off.

So, the formula would be:

B + R + S + W + P + (H) = Go for it!

Well, semuanya pasti ada kadarnya, dan tentu hasilnya akan berbeda-beda di setiap individu. Let’s say, mungkin ada cowok yang B (Baik) nya 90%, tapi W (Wawasan) nya cuma 60%. Ya, balik lagi ke diri kita masing-masing. Sebatas mana kita bisa mentolerir ambang minimumnya. Tapi pastikan ke-enam poin kriteria itu harus dimiliki oleh si laki-laki. Dan khusus, teruntuk poin H (Menghargai Diri Kamu), it should be 100%!

Run a quick check on your partner, apakah mereka sudah memenuhi kriteria-kriteria di atas? Kalau ada yang terlewat, hmm boleh lho dipertimbangkan untuk mengambil langkah. It’s much better to regret things that you did, than things you never did (again, this X friend told me about this).

So, guys. Don’t complain to me for this post. However, rumus kriteria di atas bahkan dibuat oleh seorang teman saya, yang juga merupakan seorang laki-laki. So put all those points as your life guidance to be a better partner, and don’t bother trying so hard for faking. Well, girls know best about reading and detecting 😉

Semoga memberikan pencerahan!

Advertisements

5 thoughts on “The Right Guy Formula

  1. Hey young lady, thank you for this post. I need it recently because I just had a very bad love story. The best part is, after reading this, I’m sure that my choice to end that relationship is the best way. Thanks Olga! 🙂

    PS : we met a few years ago in someone’s house before I decide to go to Jakarta. I wish you remember me 🙂

  2. keren,,, tapi menurut aku kurang satuuu aja formula,, yaitu chemistry saat ngobrol,, menurut aku satu satunya harta berharga adalah ketika bisa memiliki conversation berkualitas bersama orang yang dicinta. Ngobrol berjam jam tanpa merasa capek tapi justru senang. Membahas apa saja yang ada ada di otak, mulai dari jokes receh, sampe apakah reinkarnasi itu beneran ada atau ga. Mungkin menyenangkan punya pasangan berwawasan luas, tapi kalau saat berkomunikasi chemistry nya engga dapet, pasti rasanya ada yang janggal.

    *bdw ini sih menurut aku aja ya,, hahahahhaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s