Ketika Seorang Freelancer Mengulas Mitos tentang Menjadi Freelancer

picjumbo.com_HNCK3991

September ini, saya resmi menginjak bulan ke-9 dalam mengarungi dunia freelance yang penuh terpaan angin dan ombak. Dan layaknya mengarungi lautan di antara gugusan kepulauan, pengalaman menyenangkan, berharga, dan penuh kejutan pun banyak pula saya temui.

Menjadi freelancer adalah pilihan, yang saya putuskan secara nekat di akhir tahun 2014 lalu. Sebelumnya, setelah lulus kuliah di tahun 2013, saya memutuskan untuk bekerja secara full time di YCAB Foundation, untuk salah satu pilar programnya yang berfokus pada employment dan entrepreneurship bagi underprivileged youth. Sampai akhirnya di penghujung tahun, atasan saya mentransfer saya ke satu project yang ibaratnya masih ‘baby‘. Singkat kata, saya jatuh cinta pada project tersebut. Maka, saya pun menyetujuinya, namun dengan satu syarat; ‘I’d love to take care of this baby, but solely as a freelancer‘. Dan beruntungnya, atasan saya menyanggupi, mengingat scoop kerja project ini yang memang sangat memungkinkan untuk dilakukan secara mobile, plus saya pun hanya seorang diri di dalamnya.

Adalah Do Something Indonesia, sebuah movement yang berpusat di US (dosomething.org), di mana program afiliasinya untuk region Indonesia berada di bawah naungan YCAB Foundation. Project ini menggabungkan tiga aspek yang bagi saya sangatlah powerful, yaitu youth, social, dan digital. Berstatus sebagai freelancer sekaligus person in charge untuk project Do Something Indonesia ini membuat saya lebih fleksibel, karena dari sisi scoop kerja memang cukup mengakomodir saya untuk hal itu. Bertemu dengan volunteers dan membuat konten di kala weekend, atau conference call di malam hari dapat saya lakukan sembari mengerjakan hal lainnya. Kehidupan saya sebagai penyandang status freelancer resmi dimulai setelah saya menandatangani surat resign saya sebagai karyawan full time, dan berganti menandatangani surat kontrak kerja freelance dari kantor.

2015 saya dibuka dengan status baru saya sebagai freelancer!

Meskipun saat ini profesi freelancer makin banyak dilirik, terutama oleh kaum millennials, tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak mitos yang bermunculan di masyarakat tentang menjadi freelancer. Beberapa mitos ini seringkali saya temui di sekeliling saya, dan saya yakin saya pun tidak sendiri. Paradigma masyarakat terhadap freelance pun pasti banyak dihadapi oleh teman-teman freelancers lainnya. Kuncinya hanyalah kesabaran untuk menanggapi, dan kelapangan hati untuk menerima respon yang kontradiktif atas tanggapan yang kita berikan.

Lalu, apa saja yang umumnya berada di benak masyarakat tentang freelance?

1. “Jadi freelancer kan santai, terus banyak waktu luang dong?”

Hahaha. Anywayyy, pertanyaan ini terlontar dari mulut sang pacar pada saat kali pertama bertemu dengan saya. Padahal di hari itu, saya baru tidur 3 jam lantaran harus menuntaskan report untuk klien.

Tuhan bersama dengan anak-anak freelance yang bahkan untuk tidur pun sulit karena dihantui oleh deadline-deadline dari klien!

Menjadi freelancer ternyata tidak free-free amat. Klien yang silih berganti ditambah scoop pekerjaan yang berbeda satu sama lain mewajibkan freelancer untuk dapat beradaptasi dengan cepat dan sanggup untuk multitasking. Sama seperti pekerjaan lainnya yang bersinggungan dengan kebutuhan klien, freelancer seringkali dihujani badai revisi dan deadline.

Jadi jangan heran kalau anak freelance sering kali sulit kalau kamu ajak hangout di kala weekend dengan alasan ‘masih ngejar deadline‘. Kecuali kalau kamu anaknya ngga asik, percayalah, alasan itu bukan bualan belaka.

2. “Freelancers itu self-centered. Mereka bekerja secara individualis dan ngga punya mentor”

Meskipun kebanyakan freelancer memang bekerja secara individu, namun mereka justru memiliki kesempatan untuk berguru dan belajar bersama dengan banyak orang melalui klien yang berbeda-beda. Bertemu dengan tim klien yang merupakan orang-orang hebat di bidangnya pun merupakan kesempatan berharga bagi para freelancers untuk belajar. Tantangannya adalah, freelancer selalu dituntut untuk mampu menjadi self learner dan disiplin pada diri sendiri. Jam dan tempat kerja boleh fleksibel dan ngga ada yang mengawasi setiap saat, tapi kalau ngga bisa berkomitmen sama diri sendiri, amburadul lah semua manajemen kerja.

3. “Freelancers kan ngga pasti. Kenapa ngga mau kerja yang pasti-pasti aja sih?”

Pada beberapa bulan pertama, orangtua saya mengeluhkan hal ini. Terhitung sejak 8 bulan saya menjalani kehidupan freelance, kurang lebih saya telah menangani 8 project berbeda dengan durasi periode yang berbeda-beda pula. Mulai dari fotografi, content writing, social media strategy, hingga market research saya jalani. Bila ditanya apa pekerjaan saya bulan ini, bisa jadi bulan depan saya melakukan pekerjaan yang berbeda. Memang tidak pasti, namun juga penuh kejutan! Dan kejutan, mostly, adalah menyenangkan, bukan? Berbekal kenekatan, saya selalu ingin mencoba segala hal baru. Bagi saya, pasti ada alasan dan hal baik yang dapat dipetik dari setiap kesempatan yang datang. Either memang melalui itu kita ditunjukkan ‘jalannya’, atau as simple as ‘pasti ada pelajaran yang bisa saya dapat di dalamnya’.

Yang perlu digarisbawahi adalah, apakah definisi dari ‘kerja yang pasti-pasti’? In terms of rasa secure terhadap financial? Saya rasa ini adalah satu hal yang sangat relatif. Semua orang memiliki standar kecukupan yang berbeda-beda. Freelancer pun bisa saja meperoleh project yang hanya menghabiskan 10 jam kerja dengan bayaran USD 700, yang bahkan mungkin lebih besar dari gaji bulanan para newcomers di dunia fulltimeIn terms of kepastian mendapatkan klien? Saya percaya rezeki sudah diatur, di mana kita berusaha, di situlah akan ada jalan.

Bagi beberapa orang yang tidak menyukai rutinitas, freelance merupakan pola kerja yang paling tepat.  Fleksibilitas waktu, mobile, dan mampu bekerja sesuai dengan passion adalah sebagian hal yang mungkin tidak dapat disandingkan dengan nominal di slip gaji.

3. “Bantuin project gue dong. Kan lo freelance, jadi bisa harga temen lah. Butuh cepet juga nih.”

*BRB nimpuk si temen pake batu kali

Kultur Indonesia yang ikatan kekerabatannya sangat kental memang sering disalahgunakan, terutama dari segi bisnis, yang ironisnya banyak terjadi di ranah bisnis bidang jasa. Meskipun tidak memiliki sistem dan struktur yang rigid layaknya biro, profesi freelance merupakan profesi yang profesional. Quotation, MoU bermaterai, dan invoice adalah elemen-elemen yang wajib menyertai suatu perjanjian kerjasama.

Jadi, misalnya ketika kamu mengeluhkan teman yang mematok harga yang menurutmu cukup mahal untuk sebuah desain, ketahuilah bahwa ada proses kreatif yang panjang dibaliknya untuk menghasilkan desain yang terbaik untukmu, dan ingatlah bahwa ada deadline-deadline project lain yang juga mengejar si teman disamping request desainmu. Jadi klien yang profesional juga yuk!

4. “Freelancer itu kan duitnya kenceng”

Freelancers pada umumnya bekerja dengan sistem project based. Biasanya ada beberapa sistem pembayaran, yang pertama adalah sistem fee bulanan, di mana freelancer mendapatkan fee yang dibayar bulanan selama kerjasama berlangsung. Yang kedua adalah sistem bulk, di mana pembayaran dilakukan dengan uang muka dan pelunasan pada akhir periode kerjasama. Yang sering kali terjadi adalah fee para freelancers nyangkut di klien selama berbulan-bulan setelah periode kerjasama berakhir. Jadi yaa, jangan kaget kalau meski terlihat banyak project, jumlah digit nominal isi rekening freelancer pun bisa kalah besar dengan jumlah digit PIN ATMnya.

Karenanya, sama seperti menjalankan bisnis, menjadi freelancer pun harus cermat mengelola keuangan. Dengan pola kerja project based yang penuh kejutan, ada baiknya freelancer selalu menyisipkan sebagian dari fee yang diperoleh untuk berjaga-jaga apabila suatu saat ada masanya di mana project yang diperoleh tidak stabil.

5. “Mau deh jadi freelancer, tapi ngga punya banyak koneksi. Mana bisa dapet job..”

Sudah ada dua orang teman yang mengeluhkan hal ini kepada saya. Setelah terprovokasi, beberapa minggu kemudian mereka resign, dan saat ini telah beralih ke profesi freelancer!

Percaya deh, dengan berpikir seperti ini, kamu ngga akan pernah berani untuk memulai. Pernah mendengar bahwa keterbatasan justru membuat kita untuk menjadi lebih terpacu? Yes, terkadang, tidak ada salahnya untuk ‘menjemput bola’ untuk memulai. Ada banyak lowongan kesempatan freelance yang bisa kamu cari di internet. Kuncinya adalah berani mencoba. Soal koneksi, lambat laun akan berkembang dengan sendirinya seiring dengan waktu, dan tentunya keseriusan kamu dalam menjalani profesi freelance. Jam terbang itu penting! Masalahnya, gimana mau punya jam terbang, kalau buat mulai aja kamu ngga berani?

Tipsnya adalah; usahakan untuk tidak melewatkan invitation untuk gathering event. Dengan ini, kamu berkesempatan untuk bertemu dengan wajah-wajah baru, dan memperluas koneksi. Jangan lupa untuk memberikan first impression yang baik, dan tawaran pekerjaan bisa datang kapanpun dari mereka yang tertarik dengan first impression ketika bertemu dengan kamu.

6. “Ah, dia kan self-branding nya memang udah kuat. Makanya jadi freelancer, pasti bisa ‘menjual’ lebih”

The point is, self branding is not given. It’s something that you build. Self-branding yang kuat mungkin akan memudahkan orang untuk notice dengan diri kamu. Tapi antara ‘self-branding kuat’ dan ‘menjadi freelance‘ bukan lah merupakan hubungan sebab akibat. Keduanya bisa saling topang dan menguatkan tanpa harus memiliki salah satunya terlebih dahulu, karena bisa diperoleh dan dilakukan secara paralel dan berdampingan.

Kamu bisa juga mulai membangun self-branding lewat social media. Take advantage of it! Percantik profil profesionalmu di Linkedin, dan mulailah berpikir untuk lebih banyak posting hal-hal yang sifatnya inspirational ketimbang postingan negatif dan keluh kesah di social media. Di era ini, social media memang layaknya digital showcase kita. Banyak klien yang tertarik untuk mengajak kerjasama setelah melihat profil seseorang di social media, atau sebaliknya, sebelum kita di-hire, profil kita akan di-stalk habis-habisan terlebih dahulu.

.

Menjadi freelancer adalah soal pilihan. Semuanya kembali lagi pada passion dan tujuan hidup. Saya sempat goyah ketika menjelang pertengahan tahun ini sebuah digital agency terbesar di Jakarta sempat menghubungi dan menawarkan saya untuk secara fulltime mengisi satu posisi yang cukup menantang. Lucunya lagi, pada saat kuliah, saya sempat bercita-cita untuk apply ke sana, namun tidak pernah saya lakukan karena sebagai freshgraduate, saya merasa belum memiliki pengalaman yang cukup. Hingga tiba-tiba tawaran kesempatan itu hadir dengan sendirinya di depan mata. Di samping karena masih ada project yang tidak bisa saya tinggalkan kala itu, pada akhirnya saya pun memilih untuk stay di jalur freelance, dan belum bisa mengambil tawaran tersebut.

Apakah saya akan terus bertahan sebagai freelancer? 

I don’t want to jinx it, yah namanya manusia boleh berencana, tapi lagi-lagi Tuhan lah yang menentukan.

Untuk saat ini, menjadi freelancer mungkin adalah profesi yang paling tepat bagi saya, di mana saya masih dapat membagi waktu untuk mempersiapkan sebuah cita-cita saya yang lainnya. (all hail time flexibility!)

Am I happy being a freelancer?

For now, with all consequences, I’d say; Yes, I am 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Ketika Seorang Freelancer Mengulas Mitos tentang Menjadi Freelancer

  1. Setelah berstatus karyawan kontrak selama 4 tahun, akhirnya di tahun 2010 aku pun kerja dengan sistem remote alias di mana saja (meski status masih kontrak) hingga awal 2015 ini. Senangnya, meski statusnya kontrak..karena jenis pekerjaannya cukup fleksibel jadi aku dibolehkan mengambil pekerjaan freelance lain selama nggak mengganggu pekerjaanku yang utama. Sekarang benar-benar freelance. 😀
    Iya, meski kelihatannya santai atau bisa pilih waktu nyantai lebih fleksibel dari orang lain. Tapi jadinya kita sering bawa kerjaan ke mana-mana. Kalo liburan nggak pernah ga bawa laptop. Tapi ya alhamdulillah kondisi kayak gitu selalu ngasih tempat buat kita eksplorasi.
    Paling tantangannya adalah menabung..makanya kalo dapet fee, biasanya langsung disisihkan buat ditabung dulu sebelum dimasukkan ke rekening pribadi.
    Selamat menjalani dunia freelance, Ols. hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s