Digital Matchmaker: Yay or Nay?

Jauh sebelum era Tinder, saya sudah menjadi korban digitalisasi dalam hal percintaan. Ouch! Hahaha. Waktu zaman sekolah, saya sempat berpacaran dengan teman sekolah yang justru baru dekat dan intensnya via chat. Kalau masih ingat, waktu itu zamannya klan MSN, ebuddy, mig33, dan mxit di handphone berplatform Java seperti Sony Ericsson dan Nokia. Dan dasar ABG, sudah lah PDKT-nya chatting-an, nembaknya pun via chat, diterima pula oleh saya. Duh.

Jangan salah fokus ke platform chat yang saya gunakan, saya tahu mungkin sebagian dari adik-adik yang membaca tulisan ini tidak akan familiar dengan nama-nama yang sebutkan di atas. Tapi tidak perlu pusing, karena di postingan kali ini, saya tidak akan membahas platform-platform yang pernah ngehits di masa kejayaannya itu. Kali ini saya mau mengulas tentang salah satu ranah yang juga tidak luput dari dampak digitalisasi; lovelife.

Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya membaca postingan seorang teman di Path. She shared the story about her joining a gathering event, held by sebuah platform online matchmaker (hi, Cha! :P).

What? Cari jodoh online? Desperation? No way. Well, I used to think that it was. Tapi, seperti kata pepatah ‘Don’t judge cause you’re not walking on their shoes‘, saya pun lalu memahaminya setelah saya melakukan observasi (dan sedikit eksperimen haha).

Did you know that I met my boyfriend from Tinder? Ha!

Beberapa orang teman bahkan tidak percaya ketika mengetahui bahwa saya dan Andi, pacar saya, bertemu via Tinder :))

Lo main Tinder??’, ‘Bisa ketemu sama Andi dari Tinder?‘ dan sebagainya…

Yes, I did. 

Akhir tahun 2014, saya sempat install Tinder karena promosi dari seorang teman. Iseng-iseng, saya pun coba download. Lalu karena tidak memahami esensinya, tanpa sempat swipe kanan-kiri sekalipun, dua hari kemudian saya uninstall lah si Tinder. Kala itu saya pikir; ‘siapa sih yang mau mainan beginian?’ hahaha.

Sampai akhirnya, suatu hari, sepupu saya bercerita tentang pacar barunya. Dan surprisingly, ia pun mengaku bertemu dengan si pacar di Tinder. Sepupu saya adalah tipikal wanita karir di sebuah oil company yang super sibuk, dan pacar barunya adalah peneliti antropologi yang sebagian besar hari-harinya dihabiskan di remote area di penjuru nusantara. *they’re engaged now, dan akan menikah di tahun depan :’)

*Lesson #1: Orang yang main Tinder, adalah mereka yang sibuk bekerja. Ya ya ya..

Akhirnya, awal tahun, bulat lah keputusan Olga Elisa untu kembali menginstall Tinder di ponselnya hahaha. Goal-nya? Iseng. Dari sekian banyak matches (eeeh kok sombong wkwk), yang saya ingat, hanya ada 5 yang pindah chat platform ke media chat lain seperti Whatsapp dan Line, dan dari 5, hanya ada 2 yang sempat ketemuan. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali meng-uninstall Tinder sekitar 2 bulan setelah aktif, karena nasehat teman-teman saya hahaha.

Nah, lalu apakah saya bertemu dengan Andi begitu saja? Tentu tidak. Andi memang termasuk dalam 5 matches yang sempat chatting-an di luar platform Tinder. Itupun sepertinya hanya beberapa kali chat singkat. *setelah jadian, saya sempat baca history chat kami, dan geli sama ketengilan diri sendiri, ketika membaca chat-chat dari Andi yang cuma saya read tanpa balas ataupun saya balas irit-irit kala itu :((* Kami pun belum sempat bertemu lantaran ajakan ngopi-ngopi lucunya saya lewatkan.

Hingga kemudian, beberapa bulan berlalu. Dunia per-Tinder-an pun sudah luput dari ingatan saya. Tsahh..

Sekitaran bulan Juli, selama beberapa pekan, entah mengapa, obrolan saya dan sahabat saya, Pisi, sedang bertemakan rencana kehidupan yang serius. Mulai dari karir hingga pasangan. Waktu itu, posisi saya dan sahabat sama-sama sedang single setelah menghadapi fase relationship masing-masing yang melelahkan di masa lalu. Memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang cukup lama dijalani tentu tidak mudah, belum lagi drama yang mengikuti dan judgement yang mengekor.

Diskusi demi diskusi pun dilalui, dan statement-statement seperti ini sering kali terlontar:

Temen gue bilang gue baru akan ketemu cowo di umur 30 karena gue picky

Populasi cowo single makin sedikit di umur segini. Belum lagi kepotong sama jumlah cowo yang ngga straight

Sebenernya kemarin ada sih yang ngedeketin, tapi…

dan lain-lain..

Sampai akhirnya di suatu Sabtu malam, ketika lagi-lagi diskusi macam itu muncul di tengah-tengah pembicaraan saya dan sahabat, adalah satu petuah yang diucapkan sahabat saya yang lalu terngiang-ngiang di telinga saya setelahnya;

Sebenernya lo cuma butuh buka mata dan buka hati aja,”.

Catat, itu adalah hari Sabtu. Karena 3 hari kemudian, tepatnya di hari Selasa, saya sedang berada di perjalanan pulang dari kantor bersama dengan teman saya. Saya pun bercerita tentang hasil obrolan saya dan Pisi weekend sebelumnya, dan si teman pun akhirnya memberikan ragam petuah, yang lalu saya tuangkan dalam artikel The Right Guy Formula yang saya tulis beberapa bulan yang lalu.

Sambil berbincang topik hot itu di tengah kemacetan, saya pun multitasking dengan mainan Instagram hahaha. FYI, selama ini saya selalu mematikan push notification Instagram saya, jadi baru ketahuan kalau ada yang ngelike foto atau ngefollow saya kalau syukur-syukur pas saya lagi cek tab notification dalam aplikasi Instagramnya.

Sesaat setelah saya mengupload foto, lalu tebak siapa yang muncul di kolom notifikasi? Andi.

The guy from Tinder yang dulu itu kan?’ pikir saya kala itu. And I told my friend yang sedang mengemudi di sebelah saya right away.

Match Tinder gue jaman dulu ternyata selama ini follow Instagram gue, terus barusan ngelike foto yang baru gue upload. Gue harus apa?”

“Ya like balik lah foto Instagramnya, terus tanyain kabarnya,” ujar si teman.

“Ok, gue udah like 2 foto dia dan kasih 1 komen,” balas saya.

“Komen apaan lo?” tanya si teman.

“Gue komenin di satu foto pemandangan; ‘kok keren?‘” lapor saya.

“Njir, komen ngga ada manis-manisnya, itu kan sarkas nadanya,” ujar si teman.

Hahaha.

Dan begitulah permulaannya. Dini hari, Andi chat, dan tanpa basa-basi ia melontarkan ajakan untuk meet up setelah saya membalas sapaannya.

Lalu terngiang ucapan sahabat saya beberapa hari yang lalu; “Sebenernya lo cuma butuh buka mata dan buka hati aja,”.

And I was like, ‘why the hell not?‘.

Lalu jadilah siangnya kami bertemu untuk pertama kalinya. Yes, we met after beberapa bulan yang lalu matched di Tinder dan saya tidak merespon dengan baik chat dan ajakan ketemuannya dulu. Hingga akhirnya saya menguninstall Tinder, dan berbulan-bulan kemudian, secara tiba-tiba, muncul lagi.

Timing is a bitch!

What happened next might be the craziest thing we had ever done in our lovelife history. Hari Rabu siang pertama kalinya kami ketemu santai, for like only 1 hour – Selasa depannya pergi nonton dan makan – lalu hari Sabtunya, Andi menawarkan diri untuk menemani saya motret. Dan di hari yang sama lah, di tengah pembicaraan santai tentang our past relationship(s), Andi ngajakin pacaran, yang juga disampaikan dengan santainya..

“Terus suatu saat lo masih mau pacaran lagi?” tanyanya.

“Ya mana ada yang mau single terus-terusan,” jawab saya.

“Ya udah, yuk?” ajak Andi.

Hahaha. Kala itu belum saya jawab langsung ajakan ‘yuk pacaran’-nya, karena kaget dan sok butuh waktu dulu untuk mengenal.

Saya cuma bilang “Ngacooo, baru juga semingguan kenal. Kasih waktu dulu ya, 2 bulan?”

“Oke, 2 bulan lagi gue tanya hal yang sama,” jawab Andi waktu itu.

Tengil banget ya, saya? Padahal nyatanya… Kurang dari 48 jam setelahnya pun saya bilang juga ‘I think I want to give it a try‘. Hahaha. Satu hal yang memang bikin saya yakin untuk senekat ini adalah, we’re so casual. Ngga ada pdkt ala ala yang manis-manis manja. It was just what it is.

And that’s it. Jadian lah saya. 

Secara tidak langsung; dari Tinder.

.

See? Sebenarnya digital platforms yang digunakan untuk urusan percintaan hanyalah soal tools belaka. Dari beberapa orang yang saya kenal dan menggunakan Tinder pun mostly alasannya adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mencari kenalan baru di luar lingkaran pertemanannya,
  2. Tidak punya waktu lantaran sebagain besar hari-harinya habis di kantor,
  3. Simply iseng-iseng berhadiah, karena saingan jumlah match bareng temen-temennya zzz.

So normal, and yet far from desperation, kan? Beberapa orang yang saya kenal aktif di Tinder pun mostly hi-qualified, yang ibaratnya, ngga perlu mainan Tinder pun pasti banyak yang deketin.

Yah, well, tapi hati-hati, karena ada juga yang tujuannya melenceng. Syukurnya, saya belum pernah ketemu dengan yang ujung-ujungnya mengarah ke hook up, walaupun beberapa orang ada pula yang mengalami hal horor seperti itu.

Salah satu teman saya cerita bahwa temannya sempat meet up dengan match Tindernya di sebuah restoran di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta. Udahan dinner, si laki-laki mengajak si teman untuk naik karena si laki-laki sudah buka kamar. Geezzz. Kabur lah si temannya teman ini.

But again, if Tinder, Setipe, and Match.com were just the tools, well – then timing is everything. Ibarat memancing di laut, apapun merk dan tipe alat pancing yang kamu gunakan, ya lagi-lagi itu cuma alatnya, dan ngga ada salah dan benar tentang itu. Balik lagi, timing juga lah yang akan menentukan. I knew Andi from Tinder, but we didn’t get intense straight afterwards. Berbulan-bulan setelah saya meng-uninstall Tinder, malahan.

So, if you’re planning to try those digital matchmaker platforms, the first and foremost things that I’d suggest you, adalah..

  1. Tujuannya clear. Big no kalau kamu punya pasangan, tapi mainan Tinder. Saya malah pernah nemu yang foto Tindernya di pelaminan. Duh mas.. Tujuan iseng-iseng mainan Tinder cuma legal untuk mereka yang masih single.
  2. Mostly, they’re total strangers! Cari tahu sedikit tentang mereka lewat socmed sebelum kamu memutuskan untuk ketemuan adalah keharusan. Anak muda jaman sekarang, apa sih yang ngga bisa di-stalking-in? Hahaha.
  3. Di luaran banyak juga yang memanfaatkan platform-platform macam ini untuk cari partner untuk hook up. Yah, kamu harus jeli ya membaca arah-arah pembicaraan dan gesture mereka.
  4. There’s no point of rushing. Belum nemu-nemu yang cocok? Just let it flow. Lagi-lagi kalau memang timing-nya tepat pun akan pas pada momennya. Ini kan cuma soal tools aja 😉

So, going digital or not? It’s totally up to you.

It’s great to widen your circle of friends. And it’ll only work best when you’re not in a rush for it. Coba-cobain aja boleh, then let God do the rest, for we’ll never know what’s coming to us and where does it come from :).

Advertisements

3 thoughts on “Digital Matchmaker: Yay or Nay?

  1. Well, i met my husband now from tinder, too. Pas banget bulan ini setahun semenjak kenalan langsung pertama kali. Bener juga sih kata mba, suami saya tipikal yg kerjanya di oil company, ngoyo abis ga ada waktu gaul. Weekend pun buat istirahat. Apapun itu, menurut paham saya (?) ga ada masalah mau ketemu sama calon suami/istri lewat platform matchmaker app. Toh tetep ada proses bertemu, lalu melihat kecocokan satu sama lain.

    Tetep semangat mba! 🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s