One Perfect Companion for a Visual Thinker

Beberapa waktu yang lalu, pacar saya tiba-tiba melontarkan pertanyaan ‘Kamu gampang terdistraksi ya kalau lagi fokus belajar atau kerja?

Iya!

While si pacar adalah tipe yang bahkan ketika berada di suatu kafe yang ramai dengan lalu lalang orang pun, tetap bisa konsen belajar ataupun bekerja.

Tipe belajar dan cara kerja masing-masing individu memang berbeda-beda. Ada juga teman saya yang harus mendengarkan musik untuk dapat fokus belajar dan menghafal. Lain lagi dengan saya yang wajib corat-coret ketika sedang mencatat atau belajar, ngga heran, buku catatan favorit saya adalah sketchbook yang polos tanpa garis tentunya.

Pernah dengar tentang 3 types of learning style? Jadi, simpelnya, ada tiga kategori gaya belajar manusia, yaitu visual, auditory, dan kinesthetic. Seperti yang saya rangkum dari berbagai sumber, berikut penjelasannya masing-masing:

  1. Visual

Kamu akan lebih mudah mengingat lewat grafis, gambar, dan diagram. Karenanya, tipe ini memiliki kecenderungan untuk memvisualisasikan hal-hal yang kamu baca dan kamu dengar dalam pikiran mereka. Dalam belajar, tipe visual adalah tipe pencatat melalui gambar, diagram, atau peta. Tipe visual pun mudah sekali terdistraksi oleh suara, pintu, dan jendela.

  1. Auditory

Mereka yang memiliki tipe auditory akan lebih efektif untuk belajar dan menghafal lewat bicara dan mendengar. Nah biasanya, dalam belajar, selain dengan mendegarkan ulang rekaman materi, tipe auditory akan mengulangnya dengan mengucapkannya dengan bahasanya sendiri. Tipe ini pun umumnya perlu mendengarkan musik untuk dapat belajar lebih efektif.

  1. Kinesthetic

Tipe kinestetik memiliki kecenderungan untuk ‘bergerak’ ketika belajar. Mereka umumnya lebih menyukai praktek ketimbang menjelaskan secara verbal. Oleh karena itu, mereka akan lebih mudah saat bergabung dalam lab, drama, field trip, ataupun aktivitas aktif lainnya.

Dari ketiga tipe di atas, tentu saja saya termasuk dalam kategori visual learner hahaha. Sebagai visual learner, pulpen/spidol dan kertas polos adalah items wajib yang tidak bisa terpisahkan ketika saya sedang belajar atau kerja. Bahkan dulu, jamannya telepon landline di masa ABG, mama saya sempat ngomel karena saya memiliki kebiasaan buruk; saya hobi banget nelepon berjam-jam sambil coret-coret apapun yang ada di meja, kertas sampai buku telepon. *nah lho ketauan banget umurnya kalo masih kenal sama buku telepon 😛

Di satu sisi, environmentally talking, kebiasaan ini bahayaaa banget! Tau dong kenapa? Yes, boros kertas! 😦

Sampai akhirnya, beberapa hari terakhir ini saya menemukan satu solusi terbaik yang bisa mengakomodir kebutuhan saya sebagai visual thinker tanpa harus merasa bersalah karena boros kertas. It’s S Pen on Samsung Galaxy Tab A! I had never been a big fan of stylus. Not before I tried out this S Pen on my hand. Jadi apa yang membuat saya jatuh cinta dengan feature ini?

s

  1. Smooth!

Salah satu hal yang selalu membuat saya meragukan stylus dan menggambar di atas screen adalah grafisnya yang kaku. Tapi, S Pen di Galaxy Tab A ini bener-bener smooth, tulisan kecil pun bener-bener sama persis dengan tulisan asli saya di atas selembar kertas dan pena.

  1. Banyak pilihan menu

Spidol, pensil, brush, pena, macam-macam tools ini dapat kamu pilih di dalamnya. Jangan lupa juga dengan pilihan warnanya yang juga beragam. Ini penting banget buat visual person seperti saya yang hobi coret-coret.

  1. Easy to save and access

Layaknya sketchbook yang bisa kamu bawa ke mana-mana, ini versi digitalnya! Kamu bisa simpan notes kamu, lalu buka lagi sewaktu-waktu sesuai dengan judul yang kamu buat. Bye, boros kertas! 🙂

Oh wait, ngga cuma feature S Pen-nya aja yang bikin Samsung Galaxy Tab A ini pas banget buat jadi partner kerja sehari-hari. Dengan fitur multiwindownya, kamu bisa nonton video secara bersamaan kalau lagi cari inspirasi, sambil update social media pun juga bisa! Semuanya bisa kamu lakukan tanpa lagging karena didukung oleh koneksi cepat 4G LTE-nya.

DSCF9974 copy

Working and developing new ideas will never be the same dengan S Pen. Dare to try? 😉

Advertisements

Digital Matchmaker: Yay or Nay?

Jauh sebelum era Tinder, saya sudah menjadi korban digitalisasi dalam hal percintaan. Ouch! Hahaha. Waktu zaman sekolah, saya sempat berpacaran dengan teman sekolah yang justru baru dekat dan intensnya via chat. Kalau masih ingat, waktu itu zamannya klan MSN, ebuddy, mig33, dan mxit di handphone berplatform Java seperti Sony Ericsson dan Nokia. Dan dasar ABG, sudah lah PDKT-nya chatting-an, nembaknya pun via chat, diterima pula oleh saya. Duh.

Jangan salah fokus ke platform chat yang saya gunakan, saya tahu mungkin sebagian dari adik-adik yang membaca tulisan ini tidak akan familiar dengan nama-nama yang sebutkan di atas. Tapi tidak perlu pusing, karena di postingan kali ini, saya tidak akan membahas platform-platform yang pernah ngehits di masa kejayaannya itu. Kali ini saya mau mengulas tentang salah satu ranah yang juga tidak luput dari dampak digitalisasi; lovelife.

Beberapa hari yang lalu, kebetulan saya membaca postingan seorang teman di Path. She shared the story about her joining a gathering event, held by sebuah platform online matchmaker (hi, Cha! :P).

What? Cari jodoh online? Desperation? No way. Well, I used to think that it was. Tapi, seperti kata pepatah ‘Don’t judge cause you’re not walking on their shoes‘, saya pun lalu memahaminya setelah saya melakukan observasi (dan sedikit eksperimen haha).

Did you know that I met my boyfriend from Tinder? Ha!

Beberapa orang teman bahkan tidak percaya ketika mengetahui bahwa saya dan Andi, pacar saya, bertemu via Tinder :))

Lo main Tinder??’, ‘Bisa ketemu sama Andi dari Tinder?‘ dan sebagainya…

Yes, I did. 

Akhir tahun 2014, saya sempat install Tinder karena promosi dari seorang teman. Iseng-iseng, saya pun coba download. Lalu karena tidak memahami esensinya, tanpa sempat swipe kanan-kiri sekalipun, dua hari kemudian saya uninstall lah si Tinder. Kala itu saya pikir; ‘siapa sih yang mau mainan beginian?’ hahaha.

Sampai akhirnya, suatu hari, sepupu saya bercerita tentang pacar barunya. Dan surprisingly, ia pun mengaku bertemu dengan si pacar di Tinder. Sepupu saya adalah tipikal wanita karir di sebuah oil company yang super sibuk, dan pacar barunya adalah peneliti antropologi yang sebagian besar hari-harinya dihabiskan di remote area di penjuru nusantara. *they’re engaged now, dan akan menikah di tahun depan :’)

*Lesson #1: Orang yang main Tinder, adalah mereka yang sibuk bekerja. Ya ya ya..

Akhirnya, awal tahun, bulat lah keputusan Olga Elisa untu kembali menginstall Tinder di ponselnya hahaha. Goal-nya? Iseng. Dari sekian banyak matches (eeeh kok sombong wkwk), yang saya ingat, hanya ada 5 yang pindah chat platform ke media chat lain seperti Whatsapp dan Line, dan dari 5, hanya ada 2 yang sempat ketemuan. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali meng-uninstall Tinder sekitar 2 bulan setelah aktif, karena nasehat teman-teman saya hahaha.

Nah, lalu apakah saya bertemu dengan Andi begitu saja? Tentu tidak. Andi memang termasuk dalam 5 matches yang sempat chatting-an di luar platform Tinder. Itupun sepertinya hanya beberapa kali chat singkat. *setelah jadian, saya sempat baca history chat kami, dan geli sama ketengilan diri sendiri, ketika membaca chat-chat dari Andi yang cuma saya read tanpa balas ataupun saya balas irit-irit kala itu :((* Kami pun belum sempat bertemu lantaran ajakan ngopi-ngopi lucunya saya lewatkan.

Hingga kemudian, beberapa bulan berlalu. Dunia per-Tinder-an pun sudah luput dari ingatan saya. Tsahh..

Sekitaran bulan Juli, selama beberapa pekan, entah mengapa, obrolan saya dan sahabat saya, Pisi, sedang bertemakan rencana kehidupan yang serius. Mulai dari karir hingga pasangan. Waktu itu, posisi saya dan sahabat sama-sama sedang single setelah menghadapi fase relationship masing-masing yang melelahkan di masa lalu. Memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang cukup lama dijalani tentu tidak mudah, belum lagi drama yang mengikuti dan judgement yang mengekor.

Diskusi demi diskusi pun dilalui, dan statement-statement seperti ini sering kali terlontar:

Temen gue bilang gue baru akan ketemu cowo di umur 30 karena gue picky

Populasi cowo single makin sedikit di umur segini. Belum lagi kepotong sama jumlah cowo yang ngga straight

Sebenernya kemarin ada sih yang ngedeketin, tapi…

dan lain-lain..

Sampai akhirnya di suatu Sabtu malam, ketika lagi-lagi diskusi macam itu muncul di tengah-tengah pembicaraan saya dan sahabat, adalah satu petuah yang diucapkan sahabat saya yang lalu terngiang-ngiang di telinga saya setelahnya;

Sebenernya lo cuma butuh buka mata dan buka hati aja,”.

Catat, itu adalah hari Sabtu. Karena 3 hari kemudian, tepatnya di hari Selasa, saya sedang berada di perjalanan pulang dari kantor bersama dengan teman saya. Saya pun bercerita tentang hasil obrolan saya dan Pisi weekend sebelumnya, dan si teman pun akhirnya memberikan ragam petuah, yang lalu saya tuangkan dalam artikel The Right Guy Formula yang saya tulis beberapa bulan yang lalu.

Sambil berbincang topik hot itu di tengah kemacetan, saya pun multitasking dengan mainan Instagram hahaha. FYI, selama ini saya selalu mematikan push notification Instagram saya, jadi baru ketahuan kalau ada yang ngelike foto atau ngefollow saya kalau syukur-syukur pas saya lagi cek tab notification dalam aplikasi Instagramnya.

Sesaat setelah saya mengupload foto, lalu tebak siapa yang muncul di kolom notifikasi? Andi.

The guy from Tinder yang dulu itu kan?’ pikir saya kala itu. And I told my friend yang sedang mengemudi di sebelah saya right away.

Match Tinder gue jaman dulu ternyata selama ini follow Instagram gue, terus barusan ngelike foto yang baru gue upload. Gue harus apa?”

“Ya like balik lah foto Instagramnya, terus tanyain kabarnya,” ujar si teman.

“Ok, gue udah like 2 foto dia dan kasih 1 komen,” balas saya.

“Komen apaan lo?” tanya si teman.

“Gue komenin di satu foto pemandangan; ‘kok keren?‘” lapor saya.

“Njir, komen ngga ada manis-manisnya, itu kan sarkas nadanya,” ujar si teman.

Hahaha.

Dan begitulah permulaannya. Dini hari, Andi chat, dan tanpa basa-basi ia melontarkan ajakan untuk meet up setelah saya membalas sapaannya.

Lalu terngiang ucapan sahabat saya beberapa hari yang lalu; “Sebenernya lo cuma butuh buka mata dan buka hati aja,”.

And I was like, ‘why the hell not?‘.

Lalu jadilah siangnya kami bertemu untuk pertama kalinya. Yes, we met after beberapa bulan yang lalu matched di Tinder dan saya tidak merespon dengan baik chat dan ajakan ketemuannya dulu. Hingga akhirnya saya menguninstall Tinder, dan berbulan-bulan kemudian, secara tiba-tiba, muncul lagi.

Timing is a bitch!

What happened next might be the craziest thing we had ever done in our lovelife history. Hari Rabu siang pertama kalinya kami ketemu santai, for like only 1 hour – Selasa depannya pergi nonton dan makan – lalu hari Sabtunya, Andi menawarkan diri untuk menemani saya motret. Dan di hari yang sama lah, di tengah pembicaraan santai tentang our past relationship(s), Andi ngajakin pacaran, yang juga disampaikan dengan santainya..

“Terus suatu saat lo masih mau pacaran lagi?” tanyanya.

“Ya mana ada yang mau single terus-terusan,” jawab saya.

“Ya udah, yuk?” ajak Andi.

Hahaha. Kala itu belum saya jawab langsung ajakan ‘yuk pacaran’-nya, karena kaget dan sok butuh waktu dulu untuk mengenal.

Saya cuma bilang “Ngacooo, baru juga semingguan kenal. Kasih waktu dulu ya, 2 bulan?”

“Oke, 2 bulan lagi gue tanya hal yang sama,” jawab Andi waktu itu.

Tengil banget ya, saya? Padahal nyatanya… Kurang dari 48 jam setelahnya pun saya bilang juga ‘I think I want to give it a try‘. Hahaha. Satu hal yang memang bikin saya yakin untuk senekat ini adalah, we’re so casual. Ngga ada pdkt ala ala yang manis-manis manja. It was just what it is.

And that’s it. Jadian lah saya. 

Secara tidak langsung; dari Tinder.

.

See? Sebenarnya digital platforms yang digunakan untuk urusan percintaan hanyalah soal tools belaka. Dari beberapa orang yang saya kenal dan menggunakan Tinder pun mostly alasannya adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mencari kenalan baru di luar lingkaran pertemanannya,
  2. Tidak punya waktu lantaran sebagain besar hari-harinya habis di kantor,
  3. Simply iseng-iseng berhadiah, karena saingan jumlah match bareng temen-temennya zzz.

So normal, and yet far from desperation, kan? Beberapa orang yang saya kenal aktif di Tinder pun mostly hi-qualified, yang ibaratnya, ngga perlu mainan Tinder pun pasti banyak yang deketin.

Yah, well, tapi hati-hati, karena ada juga yang tujuannya melenceng. Syukurnya, saya belum pernah ketemu dengan yang ujung-ujungnya mengarah ke hook up, walaupun beberapa orang ada pula yang mengalami hal horor seperti itu.

Salah satu teman saya cerita bahwa temannya sempat meet up dengan match Tindernya di sebuah restoran di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta. Udahan dinner, si laki-laki mengajak si teman untuk naik karena si laki-laki sudah buka kamar. Geezzz. Kabur lah si temannya teman ini.

But again, if Tinder, Setipe, and Match.com were just the tools, well – then timing is everything. Ibarat memancing di laut, apapun merk dan tipe alat pancing yang kamu gunakan, ya lagi-lagi itu cuma alatnya, dan ngga ada salah dan benar tentang itu. Balik lagi, timing juga lah yang akan menentukan. I knew Andi from Tinder, but we didn’t get intense straight afterwards. Berbulan-bulan setelah saya meng-uninstall Tinder, malahan.

So, if you’re planning to try those digital matchmaker platforms, the first and foremost things that I’d suggest you, adalah..

  1. Tujuannya clear. Big no kalau kamu punya pasangan, tapi mainan Tinder. Saya malah pernah nemu yang foto Tindernya di pelaminan. Duh mas.. Tujuan iseng-iseng mainan Tinder cuma legal untuk mereka yang masih single.
  2. Mostly, they’re total strangers! Cari tahu sedikit tentang mereka lewat socmed sebelum kamu memutuskan untuk ketemuan adalah keharusan. Anak muda jaman sekarang, apa sih yang ngga bisa di-stalking-in? Hahaha.
  3. Di luaran banyak juga yang memanfaatkan platform-platform macam ini untuk cari partner untuk hook up. Yah, kamu harus jeli ya membaca arah-arah pembicaraan dan gesture mereka.
  4. There’s no point of rushing. Belum nemu-nemu yang cocok? Just let it flow. Lagi-lagi kalau memang timing-nya tepat pun akan pas pada momennya. Ini kan cuma soal tools aja 😉

So, going digital or not? It’s totally up to you.

It’s great to widen your circle of friends. And it’ll only work best when you’re not in a rush for it. Coba-cobain aja boleh, then let God do the rest, for we’ll never know what’s coming to us and where does it come from :).

Ketika Seorang Freelancer Mengulas Mitos tentang Menjadi Freelancer

picjumbo.com_HNCK3991

September ini, saya resmi menginjak bulan ke-9 dalam mengarungi dunia freelance yang penuh terpaan angin dan ombak. Dan layaknya mengarungi lautan di antara gugusan kepulauan, pengalaman menyenangkan, berharga, dan penuh kejutan pun banyak pula saya temui.

Menjadi freelancer adalah pilihan, yang saya putuskan secara nekat di akhir tahun 2014 lalu. Sebelumnya, setelah lulus kuliah di tahun 2013, saya memutuskan untuk bekerja secara full time di YCAB Foundation, untuk salah satu pilar programnya yang berfokus pada employment dan entrepreneurship bagi underprivileged youth. Sampai akhirnya di penghujung tahun, atasan saya mentransfer saya ke satu project yang ibaratnya masih ‘baby‘. Singkat kata, saya jatuh cinta pada project tersebut. Maka, saya pun menyetujuinya, namun dengan satu syarat; ‘I’d love to take care of this baby, but solely as a freelancer‘. Dan beruntungnya, atasan saya menyanggupi, mengingat scoop kerja project ini yang memang sangat memungkinkan untuk dilakukan secara mobile, plus saya pun hanya seorang diri di dalamnya.

Adalah Do Something Indonesia, sebuah movement yang berpusat di US (dosomething.org), di mana program afiliasinya untuk region Indonesia berada di bawah naungan YCAB Foundation. Project ini menggabungkan tiga aspek yang bagi saya sangatlah powerful, yaitu youth, social, dan digital. Berstatus sebagai freelancer sekaligus person in charge untuk project Do Something Indonesia ini membuat saya lebih fleksibel, karena dari sisi scoop kerja memang cukup mengakomodir saya untuk hal itu. Bertemu dengan volunteers dan membuat konten di kala weekend, atau conference call di malam hari dapat saya lakukan sembari mengerjakan hal lainnya. Kehidupan saya sebagai penyandang status freelancer resmi dimulai setelah saya menandatangani surat resign saya sebagai karyawan full time, dan berganti menandatangani surat kontrak kerja freelance dari kantor.

2015 saya dibuka dengan status baru saya sebagai freelancer!

Meskipun saat ini profesi freelancer makin banyak dilirik, terutama oleh kaum millennials, tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak mitos yang bermunculan di masyarakat tentang menjadi freelancer. Beberapa mitos ini seringkali saya temui di sekeliling saya, dan saya yakin saya pun tidak sendiri. Paradigma masyarakat terhadap freelance pun pasti banyak dihadapi oleh teman-teman freelancers lainnya. Kuncinya hanyalah kesabaran untuk menanggapi, dan kelapangan hati untuk menerima respon yang kontradiktif atas tanggapan yang kita berikan.

Lalu, apa saja yang umumnya berada di benak masyarakat tentang freelance?

1. “Jadi freelancer kan santai, terus banyak waktu luang dong?”

Hahaha. Anywayyy, pertanyaan ini terlontar dari mulut sang pacar pada saat kali pertama bertemu dengan saya. Padahal di hari itu, saya baru tidur 3 jam lantaran harus menuntaskan report untuk klien.

Tuhan bersama dengan anak-anak freelance yang bahkan untuk tidur pun sulit karena dihantui oleh deadline-deadline dari klien!

Menjadi freelancer ternyata tidak free-free amat. Klien yang silih berganti ditambah scoop pekerjaan yang berbeda satu sama lain mewajibkan freelancer untuk dapat beradaptasi dengan cepat dan sanggup untuk multitasking. Sama seperti pekerjaan lainnya yang bersinggungan dengan kebutuhan klien, freelancer seringkali dihujani badai revisi dan deadline.

Jadi jangan heran kalau anak freelance sering kali sulit kalau kamu ajak hangout di kala weekend dengan alasan ‘masih ngejar deadline‘. Kecuali kalau kamu anaknya ngga asik, percayalah, alasan itu bukan bualan belaka.

2. “Freelancers itu self-centered. Mereka bekerja secara individualis dan ngga punya mentor”

Meskipun kebanyakan freelancer memang bekerja secara individu, namun mereka justru memiliki kesempatan untuk berguru dan belajar bersama dengan banyak orang melalui klien yang berbeda-beda. Bertemu dengan tim klien yang merupakan orang-orang hebat di bidangnya pun merupakan kesempatan berharga bagi para freelancers untuk belajar. Tantangannya adalah, freelancer selalu dituntut untuk mampu menjadi self learner dan disiplin pada diri sendiri. Jam dan tempat kerja boleh fleksibel dan ngga ada yang mengawasi setiap saat, tapi kalau ngga bisa berkomitmen sama diri sendiri, amburadul lah semua manajemen kerja.

3. “Freelancers kan ngga pasti. Kenapa ngga mau kerja yang pasti-pasti aja sih?”

Pada beberapa bulan pertama, orangtua saya mengeluhkan hal ini. Terhitung sejak 8 bulan saya menjalani kehidupan freelance, kurang lebih saya telah menangani 8 project berbeda dengan durasi periode yang berbeda-beda pula. Mulai dari fotografi, content writing, social media strategy, hingga market research saya jalani. Bila ditanya apa pekerjaan saya bulan ini, bisa jadi bulan depan saya melakukan pekerjaan yang berbeda. Memang tidak pasti, namun juga penuh kejutan! Dan kejutan, mostly, adalah menyenangkan, bukan? Berbekal kenekatan, saya selalu ingin mencoba segala hal baru. Bagi saya, pasti ada alasan dan hal baik yang dapat dipetik dari setiap kesempatan yang datang. Either memang melalui itu kita ditunjukkan ‘jalannya’, atau as simple as ‘pasti ada pelajaran yang bisa saya dapat di dalamnya’.

Yang perlu digarisbawahi adalah, apakah definisi dari ‘kerja yang pasti-pasti’? In terms of rasa secure terhadap financial? Saya rasa ini adalah satu hal yang sangat relatif. Semua orang memiliki standar kecukupan yang berbeda-beda. Freelancer pun bisa saja meperoleh project yang hanya menghabiskan 10 jam kerja dengan bayaran USD 700, yang bahkan mungkin lebih besar dari gaji bulanan para newcomers di dunia fulltimeIn terms of kepastian mendapatkan klien? Saya percaya rezeki sudah diatur, di mana kita berusaha, di situlah akan ada jalan.

Bagi beberapa orang yang tidak menyukai rutinitas, freelance merupakan pola kerja yang paling tepat.  Fleksibilitas waktu, mobile, dan mampu bekerja sesuai dengan passion adalah sebagian hal yang mungkin tidak dapat disandingkan dengan nominal di slip gaji.

3. “Bantuin project gue dong. Kan lo freelance, jadi bisa harga temen lah. Butuh cepet juga nih.”

*BRB nimpuk si temen pake batu kali

Kultur Indonesia yang ikatan kekerabatannya sangat kental memang sering disalahgunakan, terutama dari segi bisnis, yang ironisnya banyak terjadi di ranah bisnis bidang jasa. Meskipun tidak memiliki sistem dan struktur yang rigid layaknya biro, profesi freelance merupakan profesi yang profesional. Quotation, MoU bermaterai, dan invoice adalah elemen-elemen yang wajib menyertai suatu perjanjian kerjasama.

Jadi, misalnya ketika kamu mengeluhkan teman yang mematok harga yang menurutmu cukup mahal untuk sebuah desain, ketahuilah bahwa ada proses kreatif yang panjang dibaliknya untuk menghasilkan desain yang terbaik untukmu, dan ingatlah bahwa ada deadline-deadline project lain yang juga mengejar si teman disamping request desainmu. Jadi klien yang profesional juga yuk!

4. “Freelancer itu kan duitnya kenceng”

Freelancers pada umumnya bekerja dengan sistem project based. Biasanya ada beberapa sistem pembayaran, yang pertama adalah sistem fee bulanan, di mana freelancer mendapatkan fee yang dibayar bulanan selama kerjasama berlangsung. Yang kedua adalah sistem bulk, di mana pembayaran dilakukan dengan uang muka dan pelunasan pada akhir periode kerjasama. Yang sering kali terjadi adalah fee para freelancers nyangkut di klien selama berbulan-bulan setelah periode kerjasama berakhir. Jadi yaa, jangan kaget kalau meski terlihat banyak project, jumlah digit nominal isi rekening freelancer pun bisa kalah besar dengan jumlah digit PIN ATMnya.

Karenanya, sama seperti menjalankan bisnis, menjadi freelancer pun harus cermat mengelola keuangan. Dengan pola kerja project based yang penuh kejutan, ada baiknya freelancer selalu menyisipkan sebagian dari fee yang diperoleh untuk berjaga-jaga apabila suatu saat ada masanya di mana project yang diperoleh tidak stabil.

5. “Mau deh jadi freelancer, tapi ngga punya banyak koneksi. Mana bisa dapet job..”

Sudah ada dua orang teman yang mengeluhkan hal ini kepada saya. Setelah terprovokasi, beberapa minggu kemudian mereka resign, dan saat ini telah beralih ke profesi freelancer!

Percaya deh, dengan berpikir seperti ini, kamu ngga akan pernah berani untuk memulai. Pernah mendengar bahwa keterbatasan justru membuat kita untuk menjadi lebih terpacu? Yes, terkadang, tidak ada salahnya untuk ‘menjemput bola’ untuk memulai. Ada banyak lowongan kesempatan freelance yang bisa kamu cari di internet. Kuncinya adalah berani mencoba. Soal koneksi, lambat laun akan berkembang dengan sendirinya seiring dengan waktu, dan tentunya keseriusan kamu dalam menjalani profesi freelance. Jam terbang itu penting! Masalahnya, gimana mau punya jam terbang, kalau buat mulai aja kamu ngga berani?

Tipsnya adalah; usahakan untuk tidak melewatkan invitation untuk gathering event. Dengan ini, kamu berkesempatan untuk bertemu dengan wajah-wajah baru, dan memperluas koneksi. Jangan lupa untuk memberikan first impression yang baik, dan tawaran pekerjaan bisa datang kapanpun dari mereka yang tertarik dengan first impression ketika bertemu dengan kamu.

6. “Ah, dia kan self-branding nya memang udah kuat. Makanya jadi freelancer, pasti bisa ‘menjual’ lebih”

The point is, self branding is not given. It’s something that you build. Self-branding yang kuat mungkin akan memudahkan orang untuk notice dengan diri kamu. Tapi antara ‘self-branding kuat’ dan ‘menjadi freelance‘ bukan lah merupakan hubungan sebab akibat. Keduanya bisa saling topang dan menguatkan tanpa harus memiliki salah satunya terlebih dahulu, karena bisa diperoleh dan dilakukan secara paralel dan berdampingan.

Kamu bisa juga mulai membangun self-branding lewat social media. Take advantage of it! Percantik profil profesionalmu di Linkedin, dan mulailah berpikir untuk lebih banyak posting hal-hal yang sifatnya inspirational ketimbang postingan negatif dan keluh kesah di social media. Di era ini, social media memang layaknya digital showcase kita. Banyak klien yang tertarik untuk mengajak kerjasama setelah melihat profil seseorang di social media, atau sebaliknya, sebelum kita di-hire, profil kita akan di-stalk habis-habisan terlebih dahulu.

.

Menjadi freelancer adalah soal pilihan. Semuanya kembali lagi pada passion dan tujuan hidup. Saya sempat goyah ketika menjelang pertengahan tahun ini sebuah digital agency terbesar di Jakarta sempat menghubungi dan menawarkan saya untuk secara fulltime mengisi satu posisi yang cukup menantang. Lucunya lagi, pada saat kuliah, saya sempat bercita-cita untuk apply ke sana, namun tidak pernah saya lakukan karena sebagai freshgraduate, saya merasa belum memiliki pengalaman yang cukup. Hingga tiba-tiba tawaran kesempatan itu hadir dengan sendirinya di depan mata. Di samping karena masih ada project yang tidak bisa saya tinggalkan kala itu, pada akhirnya saya pun memilih untuk stay di jalur freelance, dan belum bisa mengambil tawaran tersebut.

Apakah saya akan terus bertahan sebagai freelancer? 

I don’t want to jinx it, yah namanya manusia boleh berencana, tapi lagi-lagi Tuhan lah yang menentukan.

Untuk saat ini, menjadi freelancer mungkin adalah profesi yang paling tepat bagi saya, di mana saya masih dapat membagi waktu untuk mempersiapkan sebuah cita-cita saya yang lainnya. (all hail time flexibility!)

Am I happy being a freelancer?

For now, with all consequences, I’d say; Yes, I am 🙂